Kamis, 10 Oktober 2019

Sekilas Pandang Kegiatan PKM Prodi Pendidikan Kimia 2019

Saat ini, kata-kata era digital, kompetensi abad 21, revolusi industri 4.0 sering sekali kita dengar. Bahkan hampir semua kegiatan baik itu seminar, lokakarya, workshop atau sekedar FGD mengangkat tema tersebut. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, saya mencoba menyampaikan keterkaitannya dengan pembelajaran di sekolah, dengan tuntutan kompetensi guru yang notabene guru memang berperan utama dalam memfasilitasi pembelajaran di sekolah.

Salah satu kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang wajib dilakukan oleh dosen, yaitu pengabdian kepada masyarakat (PKM), grup riset media di Prodi Pendidikan Kimia FMIPA UNJ juga mengangkat tema ini. Kegiatan PKM dilakukan di SDIT Ibadurrahman, Kecamatan Ciruas, Serang, Banten pada hari Rabu 2 Oktober 2019.

Sekilas pandang kegiatan yang dilakukan bisa disaksikan di SINI
Paparan materi dapat diunduh di link yang ada di dalam youtube .
Selamat menyaksikan.

Senin, 08 April 2019

LESSON STUDY SEBAGAI MODEL SUPERVISI SEKOLAH

Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi seperti yang diamanahkan dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kompetensi yang dimaksud, dalam PP No.74 Tahun 2008 adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas profesionalannya. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi profesional, pedagogi, sosial dan kepribadian yang bersifat holistik. Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan dari hilir sampai ke hulu melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan, sebut saja di antaranya penyelenggaraan sertifikasi guru melalui portofolio, PLPG dan yang terkini adalah kebijakan PPG. Semua kebijakan yang dikeluarkan ini membawa perubahan-perubahan sejak guru masih menjadi calon guru atau masih sebagai mahasiswa di LPTK yang tentunya akan menyentuh kurikulum Pendidikan guru di LPTK (tidak akan saya bahas disini).
Pada postingan ini saya tergelitik untuk mengaitkan lesson study yang notabene adalah kegiatan pembinaan profesi pendidik dengan supervisi sekolah yang juga merupakan kegiatan pembinaan profesi guru (dan tenaga kependidikan). Akan menarik jika kegiatan yang mempunyai tujuan selaras ini digabungkan.
Mengapa.....?
Karena jika kegiatan supervisi sekolah dilakukan dengan model lesson study, maka learning community akan terbentuk di sekolah tanpa disadari dan peningkatan kualitas pembelajaran akan menjadi sebuah kebutuhan bagi setiap guru untuk dilakukan secara terus menerus.
                             
           
Lesson study - Supervisi 
  
Lesson Study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik selanjutnya kita sebut guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Lesson study berkembang di Jepang sejak awal tahun 1900an dan merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jugyokenkyu, yang berasal dari dua kata jugyo yang berarti lesson atau pembelajaran, dan kenkyu yang berarti study atau research atau pengajian. Jadi lesson study berdasarkan etimologi katanya berarti pengajian terhadap pembelajaran. 
Sedangkan supervisi adalah salah satu usaha pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secara kontinyu baik secara individual maupun secara kolektif, agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pembelajaran. Tujuan supervisi sekolah adalah untuk mengembangkan profesionalisme, menumbuhkan motivasi dan pengawasan kualitas. Salah satu jenis supervisi yaitu supervisi klinis, mempunyai sasaran yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis. Siklus ini dimulai dari tahap perencanaan, pengamatan, hingga analisis yang intensif terhadap penampilan pembelajaran dengan tujuan memperbaiki proses pembelajaran. 
Berdasarkan uraian singkat tentang lesson study dan supervisi sekolah, terlihat keduanya mempunyai tujuan yang sama, untuk perbaikan proses pembelajaran secara berkelanjutan yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan profesionalisme guru. Sehingga menjadi suatu keniscayaan bahwa supervisi sekolah bisa dilakukan dengan model lesson study.

Lebih lengkapnya silahkan unduh disini 

MP


Kamis, 23 Agustus 2018

SEKILAS TENTANG PENDIDIKAN KARAKTER


Pendidikan nasional dalam UU No 20 Tahun 2003 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jika dicermati, potensi dalam diri peserta didik yang ingin dikembangkan melalui pendidikan mengarah pada pengembangan karakter. Artinya nilai-nilai karakter bangsa adalah nafas dan ruh yang menjadi inti utama pendidikan nasional bukan hanya sekedar untuk mencapai kecerdasan akademik. Hal ini sesuai dengan sifat umum pendidikan yang dideskripsikan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita”.
Internalisasi pendidikan karakter dalam kurikulum sudah ada sejak dulu, bukan merupakan hal baru. Kurikulum 1964, memfokuskan pembelajaran pada: daya cipta, rasa, karsa, karya dan moral. Kurikulum 1968 menggantikan kurikulum 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama,  merupakan wujud dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni, dimana kurikulum ini bertujuan membentuk manusia Pancasila sejati, kuat dan sehat jasmani, mempertinggi keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.
Pendidikan budaya dan karakter bangsa atau sering disingkat pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang  mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara  yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Sehingga pengembangan karakter menjadi penting untuk diintegerasikan ke dalam proses pembelajaran di setiap jenjang pendidikan untuk ketercapaian tujuan pendidikan nasional.
Integrasi pendidikan karakter ke dalam proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses belajar aktif dan berpusat pada peserta didik, dilakukan melalui berbagai kegiatan baik di dalam kelas, di sekolah, maupun di masyarakat.
1.      Kelas
Proses pembelajaran di setiap mata pelajaran dirancang sedemikian rupa untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu, tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter. Dari setiap proses pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan berbagai model atau metode pembelajaran akan memunculkan karakter yang khas, misalnya model problem based learning, akan menumbuhkan karakter rasa ingin tahu, kritis, analitis. Metode jigsaw, dapat menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, kerjasama dan melatih komunikasi. Melalui metode team game tournament (TGT), ditumbuhkan karakter kompetitif, tanggung jawab dan kerjasama. Pengembangan nilai-nilai lainnya seperti kerja keras, jujur, toleransi, disiplin, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan gemar membaca dapat melalui kegiatan belajar yang biasa dilakukan guru. Integrasi pendidikan karakter dalam proses pembelajaran ini harus tercermin pada rencana pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru dengan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik. Untuk pegembangan beberapa nilai lain seperti peduli sosial, peduli lingkungan, rasa ingin tahu, dan kreatif memerlukan upaya pengkondisian sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai-nilai itu.
2.      Sekolah
Pendidikan karakter dapat dikemas melalui berbagai kegiatan sekolah yang diikuti seluruh peserta didik, guru, kepala sekolah,  dan tenaga administrasi di sekolah itu, direncanakan sejak awal tahun pelajaran, dimasukkan ke Kalender Akademik dan yang dilakukan sehari-hari sebagai bagian dari budaya sekolah. Contoh kegiatan yang dapat dimasukkan ke dalam program sekolah adalah lomba majalah dinding dengan tema-tema tertentu, seperti perjuangan pahlawan, cinta tanah air, linkungan, dll. Pagelaran seni, misalnya dengan menampilkan puisi religi. Lomba pidato bertema budaya dan karakter bangsa, pertandingan olah raga antar kelas, pameran hasil karya peserta didik, pameran foto hasil karya peserta didik lomba membuat tulisan, lomba mengarang lagu, melakukan wawancara kepada tokoh lingkungan hidup, tokoh agama, tokoh budaya, dll.
3.      Luar sekolah
Selain di dalam kelas dan di sekolah, pendidikan karakter dapat diintegrasikan juga melalui kegiatan ekstrakurikuler, seperti kelompok ilmiah remaja (KIR), dokter kecil, palang merah remaja, rohis, olah raga, berbagai kesenian, madding, dan sebagainya. Kegiatan lain seperti pengabdian masyarakat juga dapat dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian dan kesetiakawanan sosial, misalnya membantu mereka yang tertimpa musibah banjir, memperbaiki atau membersihkan tempat-tempat umum, membantu membersihkan atau mengatur barang di tempat ibadah tertentu, gerakan mencuci mukena di masjid sekitar sekolah, dan sebagainya.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter bagi peserta didik meliputi:
1.      Berkelanjutan
Prinsip berkelanjutan ini mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai  karakter merupakan sebuah proses panjang, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan. Sejatinya, proses tersebut dimulai dari kelas 1 SD atau tahun pertama dan berlangsung paling tidak sampai kelas 9 atau kelas akhir SMP. Pendidikan karakter di SMA adalah kelanjutan dari proses yang telah terjadi selama 9 tahun.  
2.      Melalui semua mata pelajaran
Pengembangan karakter peserta didik dilakukan melalui pengintegrasian nilia-nilai di dalam proses pembeajaran setiap mata pelajaran, dalam setiap kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler
3.      Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan
Prinsip ini mengandung makna bahwa guru tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada, tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai karakter pada peserta didik. Guru juga tidak harus melakukan proses pembelajaran khusus untuk mengembangkan nilai, karena satu proses pembelajaran dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.  Namun demikian, peserta didik perlu mengetahui pengertian dari suatu nilai yang sedang mereka tumbuhkan pada diri mereka. Mereka tidak boleh berada dalam posisi tidak tahu dan tidak paham makna nilai itu.
4.      Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan
Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan karakter bangsa dilakukan oleh peserta didik bukan oleh guru. Guru menerapkan prinsip ”tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukkan peserta didik. Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses pendidikan dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang dan tidak indoktrinatif.
Dari urain di atas jelas terlihat bahwa Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan karakter peserta didik, baik melalui proses pembelajaran di kelas, kegiatan di sekolah, ekstrakurikuler maupun kegiatan di masyarakat.

“Filosofi ruang sekolah dalam suatu generasi akan memenentukan filosofi pemerintah di masa depan” (Abraham Lincoln). MP


Minggu, 30 Oktober 2016

Pembelajaran Kolaboratif: Sebuah Gerakan untuk Mewujudkan Komunitas Belajar



Sambungan tulisan terdahulu

Pembentukan komunitas belajar merupakan jalan untuk menuju reformasi sekolah. Dan kegiatan yang paling sederhana untuk membentuk komunitas belajar adalah melalui pembelajaran kolaboratif.

Pembelajaran kolaboratif seringkali dimaknai sebagai sebuah model pembelajaran yang menggunakan belajar berkelompok dengan berbagai cara, seperti jigsaw, diskusi kelompok dan lain-lain. Namun, apakah dengan siswa belajar berkelompok sudah terjadi pembelajaran kolabaratif? Dalam pembelajaran kolaboratif terdapat tiga point penting, yaitu:
1.    Setiap siswa menganggap kelompoknya seperti rumah sendiri.
Siswa merasa nyaman, tidak malu bertanya pada temannya jika belum mengerti, setiap siswa merasa diterima apa adanya dalam kelompok tersebut.
2.    Tersedia tumpuan dalam pembelajaran.
Tumpuan yang dimaksud adalah bahan dan media pembelajaran untuk merangsang siswa saling berinteraksi dalam kelompoknya.
3.    Melakukan pembelajaran dengan tipe step atau spiral.
Tipe step maksudnya adalah jika satu langkah gagal maka tidak akan bisa menuju langkah berikutnya. Sedangkan tipe spiral maksudnya adalah melangkah maju dengan melibatkan siswa yang belum mengerti, sehingga diperoleh pemahaman baru.
Tipe pembelajaran yang baik diterapkan untuk pembelajaran kolaboratif adalah tipe spiral.

Pembentukan kelompok untuk terjadinya kolaborasi bisa secara berpasangan maupun bertiga atau berempat. Kelompok yang dibentuk agar proses kolaborasi berlangsung dengan baik, sangat disarankan memperhatikan pemerataan gender dan keberagaman lainnya.
Kemudian bagaimana dengan peran guru dalam pembelajaran kelompok agar terjadi kolaborasi?

Guru tetaplah menjadi komponen yang paling berperan menciptakan suasana kondusif untuk terjadinya pembelajaran kolaboratif, dimulai dari hal-hal sederhana berikut:
1.    Mendorong siswa agar menciptakan hubungan saling bergantung yang positif satu sama lain, sehingga siswa bisa secara terbuka untuk meminta bantuan pada siswa lain dalam kelompoknya
2.    Menerima setiap siswa apa adanya, tidak memarahi di depan siswa lain jika berbuat kesalahan, namun memberi bimbingan secara pribadi agar siswa dapat menyadari kesalahannya
3.    Menyimak atau menjadi pendengar yang baik terhadap apa yang disampaikan siswa, apa yang sudah diketahui dan yang terpenting apa yang belum diketahui siswa. Tidak melakukan intervensi saat siswa berbicara
4.    Menghubungkan siswa yang belum mengerti dengan siswa yang sudah mengerti, dan menghubugkannya dengan buku teks atau sumber belajar
5.    Bersikap sabar, memberi waktu dan ruang kepada siswa untuk merenung dan memecahkan masalahnya. Dengan kata lain tidak tergesa untuk memberikan penjelasan
6.    Mempelajari kembali kesulitan siswa dalam memahami suatu materi. Dari kesulitan inilah sebetulnya bisa terjadi pembelajaran.

Pada saat siswa berdiskusi dalam kelompok, siswa harus saling belajar satu sama lain di dalam kelompoknya tersebut. Semua siswa bebas berpendapat dan saling menyimak dengan baik pendapat temannya. Memberikan bantuan kepada temannya yang masih kesulitan dalam memahami materi yang dipelajari. Saling belajar dalam kelompok ini kemudian dilanjutkan dengan saling belajar dalam kelas pada saat pleno. Siswa berdiskusi dan mengemukakan pendapat atau pikirannya dalam kegiatan pleno. Namun pada saat siswa menyampaikan pendapatnya tetap sebagai pendapatnya pribadi bukan kesimpulan atau pendapat kelompok.

Nah di sinilah letak bedanya dengan pembelajaran kelompok yang pada umumnya dilakukan. Biasanya setelah dilakukan diskusi dalam kelompok, salah satu siswa yang mewakili kelompok tersebut akan menyampaikan pendapat kelompok atau kesimpulan kelompok pada saat diskusi kelas atau pleno. Pendapat pribadi sudah melebur menjadi pendapat kelompok. Hal ini bisa menimbulkan ketidakpuasan, karena kesimpulan kelompok belum tentu sama dan mewakili pikiran dan pendapat pribadi. Keberagaman pendapat pada saat pleno akan menumbuhkan saling belajar antar siswa. Semua siswa akan merasa pendapatnya dihargai. Karena bak diskusi kelompok maupun diskusi pleno bukanlah bertujuan untuk menyatukan pendapat tetapi untuk saling bertukar pendapat. Peran guru diakhir diskusi tentunya memberikan konfirmasi dan klarifikasi pemahaman yang benar. Bagian kegiatan ini disebut dengan sharing task, bagian yang sesuai dengan buku pelajaran, sesuai dengan kurikulum.

Jika sudah terjadi sharing task, guru bisa melakukan jumping task untuk meningkatkan mutu pembelajarannya. Siswa diberikan tugas atau soal dengan tingkat kesukaran yang tinggi di atas tingkat pembelajaran biasa untuk didiskusikan kembali dalam kelompok. Selain untuk meningkatkan mutu pembelajaran, jumping task juga untuk memfasilitasi siswa yang cepat belajar atau memiliki kemampuan di atas rata-rata. Namun dengan diskusi kelompok, jumping task ini dapat menggugah rasa ingin tahu seluruh siswa. Artinya siswa dengan kemampuan rata-rata akan termotivasi juga memecahkan masalah dalam jumping task. Di sinilah kemampuan dan kreativitas guru sangat dibutuhkan. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. (bersambung)

*Selamat berkarya untuk para guru di seluruh penjuru

Senin, 03 Oktober 2016

REFORMASI SEKOLAH DENGAN KOMUNITAS BELAJAR: Sebuah Perenungan



Melewati malam di Tokyo, membaca tulisan Manabu Sato diiringi Kenny G yang melankolis… membuat saya ingin berbagi sedikit. Paling tidak ini menjadi bahan perenungan buat saya.

Yang menarik buat saya setelah membaca tulisan Sato, bahwa reformasi sekolah yang utama bukanlah dukungan sarana prasarana dan sumber daya, melainkan visi. Karena visi merupakan prioritas pertama jika kita berbicara tentang reformasi. Tanpa visi, maka waktu, energi dan semua sumber daya yang diinvestasikan menjadi tidak berarti apa-apa. Terbentuknya komunitas belajar merupakan visi untuk keberhasilan reformasi sekolah.

Seperti apakah reformasi sekolah dengan komunitas belajar?
Sekolah yang menjamin hak belajar setiap anak tanpa terkecuali, terus menerus meningkatkan kualitas pembelajarannya, pencapaian simultan antara kualitas dan kesetaraan serta menyiapkan masyarakat yang demokratis. Apakah ini mudah….? Sudah tentu tidak mudah, namun bisa terwujud melalui proses panjang dan keinginan baik dari semua pihak yang terkait, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, orang tua dan masyarakat. 

Reformasi sekolah dengan komunitas belajar merupakan impian, dimana siswa–siswa saling belajar dan berkembang, guru–guru yang terus saling belajar dan berkembang serta orang tua dan masyarakat yang juga saling belajar dan berkembang.
Filosofi yang menjadi landasan reformasi sekolah dengan komunitas belajar adalah: (1) filosofi publik, (2) filosofi demokrasi, dan (3) filosofi keunggulan.

Filosofi Publik
Sekolah harus difungsikan sebagai ruang publik. Artinya guru membangun hubungan dengan sesama rekan guru lainnya dan saling belajar untuk membelajarkan siswa dengan cara membuka kelasnya minimal setahun sekali. Sehingga guru akan mendapatkan masukan secara terus menerus untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya.
Filosofi Demokrasi
Sekolah adalah tempat dimana demokrasi bisa dijalankan dan dikembangkan dengan baik. Setiap siswa memiliki hak dan kewajiban yang sama. Semua siswa mempunyai dan mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa menjadi yang terbaik. Tidak hanya siswa, gurupun mendapat kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri. Oleh sebab itu penting sekali untuk menciptakan hubungan saling mendengarkan dengan mengedepankan dialog di antara sesama siswa, siswa dan guru, dan di antara sesama guru.

Filosofi Keunggulan
Sekolah harus melakukan yang terbaik berorientasi pada keungulan dalam proses pembelajaran. Dalam kondisi apapun guru tidak boleh menurunkan level pembelajaran karena alasan kemampuan siswa yang rendah, lingkungan yang kurang kondusif, guru terlalu sibuk atau alasan lainnya. Dalam hal ini perlu upaya pembiasaan diri untuk mengupayakan pembelajaran yang maksimal, seperti kata Dewey bahwa pendidikan merupakan pembentukan kebiasaan.

Kemudian pertanyaan selanjutnya…. Sistem kegiatan seperti apa yang dapat mewujudkan reformasi sekolah dengan komunitas belajar?
Sistem kegiatan didesain sebagai sebuah sistem yang menyeluruh yang didukung oleh semua elemen sekolah, yaitu melalui sistem kegiatan: (1) pembelajaran kolaboratif (collaborative learning) di dalam kelas, (2) pembentukan komunitas belajar professional (professional learning community), dan (3) kolegialitas (collegiality) di ruang guru, serta yang tidak kalah penting adalah dukungan orang tua dan masyarakat dalam reformasi sekolah. (MP)
(bersambung)