Rabu, 19 November 2014

Being a Good Teacher as The Leader of The Classroom

Percakapan yang menarik dengan siswa SMA saat ujian PPL beberapa waktu yang lalu,
Saya: kalian suka diajar oleh guru yang seperti apa?
Siswa: guru yang mengajarnya enak, yang bisa "menjelajahi" muridnya, seperti bu Yulia (guru kimia di SMA tersebut) dan guru PPL (mahasiswa yang sedang praktek mengajar)
Saya: seperti apa itu?
Siswa:  guru yang bisa menyesuaikan diri dengan muridnya, paham sifat dan cara muridnya belajar.

Percakapan di atas menjadi inspirasi untuk tulisan sederhana yang saya rangkum dari berbagai sumber sebagai bahan renungan bagi para guru dan calon guru.

Nowhere does the quality of a school system exceed the quality of its teachers. Teachers are the leader of the classroom. There are many characteristics to be a good educational leader, and the following are seven of the most important.
1.       Self-aware
A good educational leader needs a solid understanding of oneself and should also have self confidence. Teachers with self confidence are not scared or nervous about the decisions they are making, and they are not afraid of what other people think of them. They should know how to start each day and lead their classroom and their students in the right direction and help to accomplish the goals of the learning.
2.       Excellent communication
The best educational leaders are excellent communicators. The best leaders know how to reach a variety of people in many different ways. For instance, a teacher might have one-on-one chats with students each week and also send out a daily e-mail update. This way, the teacher takes the time to communicate in-person but also makes communication convenient by e-mailing the students as well.
3.       Resourceful
Educational leaders are resourceful and open to new ideas that might improve their classroom.  They also need to know how to use the resources they have to the best of their ability. A good leader does not get set in his or her own way, but takes the information from the past and applies it to the resources of the future.
4.       Lead by example
The best leaders in the educational system make it a point to lead by example, and not simply by words. It is easy to spell out rules and dictate them from an ivory tower. If a teacher wants students to show one another respect, then the teacher must show them what being respectful is all about. This method is effective and powerful, and helps to teach students an important life lesson as well.
5.       Good commitment
To reach the goals of learning, teacher must feel a real sense of purpose and progress. Teacher can’t afford to be moderate about its transformational commitment. The teacher must define who they are, because it will transforms students in the classroom. The values that espouse must be real, because the condition of the classroom demands teacher's attention.
6.       Tell the truth
Truth plays a vital role in leadership. Students expect teacher to tell the truth. They expect that teacher will uphold the truth so that they personally can follow safely. If a teacher is obviously not truthful then student will have difficulty trusting their actions and reactions to situations.
7.       Power of teaching and learning
Above all, educational leaders must have a belief in the system and the students they are teaching. If a teacher does not believe the students can do it, or does not feel the teachers are adequate, then everyone is doomed to failure. Student will not be motivated to make the change if the teacher does not believe the change can happen.

There are many different characteristics and traits of a good leader, but these ensure that anyone who can embody these traits can make a good leader in the school system. These traits can be applied in a variety of different circumstances. Teachers must strive to be the best leaders of their classrooms and teach students how to become the leaders of tomorrow. MP

Kamis, 13 November 2014

Sekilas tentang Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Sains dan Kaitannya dengan Berpikir Kritis

Paradigma pembelajaran di sekolah mengalami pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Peran gurupun mengalami perubahan dari pengajar yang hanya mentransfer ilmu dan pengetahuan menjadi fasilitator dan motivator yang memfasilitasi siswa untuk belajar. Dalam hal ini siswa belajar membangun sendiri pengetahuannya melalui berbagai proses kegiatan pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa oleh guru sehingga keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran menjadi hal yang utama.  Model-model pembelajaran di sekolah harus disesuaikan dengan perubahan ini dan perubahan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat pesat. Dengan model pembelajaran yang adaptif maka akan terjadi perbaikan mutu pembelajaran yang berkontribusi pada perbaikan mutu pendidikan secara umum. Melalui peningkatan kualitas pembelajaran, siswa akan semakin termotivasi untuk belajar, semakin positif sikapnya, semakin bertambah jenis pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai, dan semakin mantap pemahaman terhadap materi yang dipelajari.
Untuk menghadapi tantangan perubahan di masa mendatang yang semakin berat, diperlukan pendekatan-pendekatan dan orientasi baru dalam pelaksanaan pembelajaran. Salah satu bekal yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perubahan tersebut adalah melalui pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan potensi siswa. Proses ini akan terjadi manakala pembelajaran sebagai konteks internal dan eksternal diselenggarakan melalui proses fasilitasi dan stimulasi. Hal ini mengandung arti bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi antara guru dan siswa, dimana guru berperan sebagai fasilitator dan motivator yang memfasilitasi siswa untuk belajar dalam proses pembelajaran yang aktif dan efektif.
Proses belajar yang secara umum terjadi adalah proses transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Siswa cenderung hanya menghafalkan rumus dan prosedur-prosedur penyelesaian. Ini mengakibatkan kemampuan siswa menyelesaikan soal pemecahan masalah menjadi lemah. Lebih jauh, siswa akan mengalami ketidakmampuan dalam menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan atau dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan hasil studi Bank Dunia pada tahun 2005, bahwa siswa Indonesia kurang memiliki kemampuan berpikir kritis dibanding rekannya dari Jepang, Korea, Australia, Hong Kong dan Thailand. Oleh sebab itu,  harus dilakukan perubahan metode dan model pembelajaran yang lebih mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Pendidikan pada jenjang sekolah dasar merupakan fase penting dari perkembangan anak yang akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa datang. Pada dasarnya, siswa SD memiliki rasa ingin tahu, tanggap terhadap permasalahan dan kompleksitasnya, dan minat untuk memahami fenomena secara bermakna. Sementara itu, siswa yang berpikir kritis adalah siswa yang mampu mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengkontruksi argumen serta mampu memecahkan masalah dengan tepat. Siswa yang berpikir kritis akan mampu menolong dirinya atau orang lain dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian proses pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis sejak di tingkat sekolah dasar merupakan hal yang penting untuk dilakukan.
Salah satu mata pelajaran di sekolah dasar yang dapat memfasilitasi upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah mata pelajaran sains. Bagaimana seharusnya pembelajaran sains di sekolah dasar dilakukan? Salah satu alternatifnya menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual. Secara definisi, pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan atau konteks ke permasalahan atau konteks lainnya. 

Beberapa perbedaan pembelajaran kontekstual dan konvensional
No
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Konvensional
1
Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman makna
Menyandarkan pada hafalan
2
Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa
Pemilihan informasi di-tentukan oleh guru
3
Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran
Siswa menerima informasi secara pasif
4
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata atau masalah yang disimulasikan
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
5
Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan
6
Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok)
Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan (melalui kerja individual)
7
Perilaku dibangun atas kesadaran diri
Perilaku dibangun atas kebiasaan
8
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting
Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
9
Hasil belajar diukur  melalui penerapan penilaian autentik.
Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes, ujian, atau ulangan


Dengan pendekatan kontekstual, siswa akan lebih termotivasi karena pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Pembelajaran dilakukan tidak hanya di dalam kelas, tetapi dengan pengamatan langsung pada lingkungan sekitar. Siswa belajar memecahkan masalah secara berkelompok dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran. 
Salah satu contoh dalam mempelajari "pertumbuhan tanaman": siswa secara berkelompok 2-3 orang diberi tugas membawa tanaman yang berbeda-beda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya dan menanamnya di dalam pot. Setiap kelompok bertanggungjawab untuk merawat tanaman tersebut, seperti memberi pupuk, menyirami, menyiangi dan membuang daun yang mengering. Siswa membuat catatan tentang ciri-ciri tanaman, bagaimana bentuk dan warna daunnya, bagaimana bentuk dan warna bunganya, pertumbuhan tanaman tersebut setelah beberapa waktu, dll. Kemudian siswa mempresentasikan hasil laporan tersebut di depan kelas, sehingga semua siswa akan mendapatkan informasi tentang bermacam tanaman yang ditanam oleh seluruh kelompok dalam kelas tersebut. 
Kegiatan pembelajaran seperti contoh sederhana di atas akan membuat siswa lebih memahami makna pembelajaran yang dilakukan dan secara bertahap menumbuhkan kemampuan berpikir kritisnya, karena siswa dilatih membuat kaitan-kaitan dalam pikirannya tentang materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata yang dialami sehari-hari. Sikap positif lain yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan kepekaan siswa sejak dini untuk turut menjaga lingkungannya. (MP)

Kamis, 06 November 2014

Seonggok Jagung Dan Softskills Dalam Bingkai Pembelajaran Kooperatif


Penggalan Sajak Seonggok Jagung karya W.S. Rendra:

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”



Membaca sajak ini, membuat pikiran dipenuhi pertanyaan “sebetulnya apa yang terjadi dengan pendidikan di negeri tercinta ini?” Apakah pendidikan kita gagal membuat seseorang percaya akan kemampuannya, memiliki kompetensi sesuai bidangnya, mudah beradaptasi dalam perubahan, mampu berkontribusi bagi lingkungannya, siap memasuki dunia kerja?

Harian Kompas pada tahun 2010 pernah memuat tulisan tentang kategori sukses versi Harvard yang menyebutkan bahwa kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skills), tetapi lebih mengarah pada kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skills). Pernyataan ini memberikan isyarat bahwa soft skills sudah selayaknya mendapat perhatian dengan porsi yang lebih dalam dunia pendidikan terutama pendidikan formal mulai dari tingkat yang terendah, namun kenyataan berbicara lain. Pembelajaran di sekolah masih berorientasi pada penguasaan pengetahuan yang menekankan aspek-aspek teknis atau hard skills. Pembelajaran lebih diarahkan bagaimana peserta didik menguasai sebanyak-banyaknya materi pelajaran yang disampaikan oleh guru atau sekedar siap menghadapi ujian dan memperoleh nilai bagus. Kalau sekedar itu…. tujuan pembelajaran sudah tercapai dan menunjukkan hasil. Kita bisa lihat spanduk-spanduk yang terpampang di depan gerbang hampir semua sekolah… Sekolah A lulus UN 100%, Sekolah B memiliki nilai UN kimia tertinggi se-DKI, dsb.

Apakah memang hanya itu….? Jika hanya ranah kognitif yang menjadi tujuan, jawabannya IYA. Bagaimana dengan ranah afektif dan psikomotor?
Kali ini saya ingin meninjaunya dari kaca mata softskills yang notabene menjadi bagian dari ranah afektif. Softskills meliputi intrapersonal skills dan interpersonal skills. Intrapersonal skills mengarah pada sifat personal, di antaranya rasa empati, integritas, motivasi, critical thinking, tanggung jawab. Sedangkan interpersonal skills meliputi keterampilan kerjasama tim (team working skills), keterampilan berkomunikasi (communication skills) dan keterampilan kepemimpinan (leadership skills). Softskills yang demikian luas cakupannya ini menjadi pelengkap hardskills, namun bukan pelengkap penderita….

Interpersonal Skills secara umum digambarkan sebagai keterampilan seseorang dalam berinteraksi tanpa menimbulkan konflik pribadi melalui komunikasi dan pemahaman yang baik terhadap orang lain. Hal yang menarik adalah adanya pernyataan yang menyebutkan bahwa interpersonal skills ditengarai sebagai keterampilan yang paling penting di dalam dunia kerja.
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara mengembangkan keterampilan-keterampilan ini melalui pembelajaran….?

Model pembelajaran kooperatif dapat menjadi salah satu alternatif.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu proses pembelajaran di mana peserta didik bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, saling membantu mempelajari suatu materi pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Di dalam pembelajaran kooperatif, seluruh peserta didik diberi tanggungjawab untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran kooperatif memiliki lima ciri pokok, yaitu: (1) Positive interdependence, (2) Individual accountability, (3) Group processing, (4) Social skills, dan (5) Face to Face interaction.

Salah satu contoh pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan interpersonal skills adalah model Jigsaw atau model Tim Ahli. Misalnya kita akan mempelajari cara penentuan entalpi reaksi melalui percobaan, perhitungan entalpi pembentukan standar, Hukum Hess dan pendekatan energi ikatan. Maka langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh guru adalah:
  1. Mengelompokkan siswa dengan 4 anggota tim
  2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
  3. Anggota dari tim yang berbeda bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan materi bagian mereka
  4. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian menjelaskan kepada teman satu tim mereka tentang bagian materi yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
  5. Setiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
  6. Guru melakukan evaluasi dan memberikan umpan balik
              

                                               
Dari satu contoh model di atas yang sederhana, guru sudah menciptakan pembelajaran yang lebih menyenangkan sekaligus melatih peserta didiknya memiliki tanggung jawab individu dan kelompok, menumbuhkan rasa percaya diri, terampil berkomunikasi, melakukan kerjasama. Selain itu, peserta didik sudah dikondisikan atau difasilitasi untuk mengkonstruk sendiri pengetahuannya yang akan menjadi longterm retention.

Jika pembelajaran yang dilakukan oleh guru selalu menyenangkan dan memfasilitasi peserta didik untuk terlibat aktif, maka tidak akan ada lagi peserta didik yang mengatakan tidak suka matematika, kimia pelajaran yang sulit, fisika menakutkan, sejarah membosankan, dsb. Semua peserta didik akan senang belajar dan karakter atau sikap positif sedikit demi sedikit akan terbentuk menjadi pembiasaan dan akhirnya membudaya serta bermuara pada kompetensi yang mencakup ketiga ranah seperti yang diharapkan.

Maka…. tidak akan ada lagi pemuda dalam sajak Rendra yang merasa pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan dan bertanya apa gunanya belajar. (MP)

Selasa, 04 November 2014

Kepingan-kepingan yang Bermuara pada Pembelajaran Sains Dasar


Mengapa kurikulum 2013 digulirkan…..?
Jika dibandingkan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sebenarnya mempunyai semangat yang sama. Kedua kurikulum tersebut menekankan pembelajaran yang terpusat pada siswa, melatih siswa untuk mengembangkan daya nalarnya dalam memecahkan permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata. Sehingga pada akhirnya kemampuan berpikir kritis siswa dapat berkembang dengan baik. Tetapi pada kenyataannya, pembelajaran yang terjadi di sekolah lebih terpusat pada guru. Guru lebih banyak menekankan aspek pengetahuan dan pemahaman. Kreativitas guru dalam melakukan pembelajaran yang aktif, inovatif, dan menyenangkan masih belum membudaya. Berbagai kendala dalam penerapan KTSP sering dikeluhkan oleh para guru di lapangan saat saya berinteraksi dalam berbagai kesempatan.
Selama ini penterjemahan terhadap KTSP tidak berlangsung dengan baik. Guru lebih senang dengan “formatisasi”, segala sesuatu harus ada format yang bisa dicontoh, tidak berani mengambil sikap untuk berbeda. Contohnya: format RPP, format silabus, dll. Bagaimana KTSP bisa diterapkan sesuai dengan kondisi sekolah dan mengangkat keunggulan lokal kalau masih “formatisasi”. Seperti apapun kurikulum diubah, jika persepsi guru tidak berubah dan keinginan untuk mengubah diri tidak dilakukan, maka hasilnya akan tetap sama.
Adanya program sertifikasi guru yang melegalisasi bahwa guru yang tersertifikasi adalah tenaga profesional, menuntut guru untuk selalu meningkatkan kualitas dan kinerjanya. Hal ini merupakan konsekuensi wajar dari sebuah peningkatan kesejahteraan. Tidak menjadi layak lagi apabila guru mengeluh terhadap tuntutan peningkatan kualitas dan kinerja tersebut. Artinya menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang menjadi tugas utama guru harus bisa dilakukan dengan ideal, termasuk pembelajaran sains.
Untuk membudayakan sains di sekolah, bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana, tidak membutuhkan biaya yang besar, yang dibutuhkan adalah guru yang kreatif dan memiliki semangat tinggi. Untuk tingkat sekolah dasar bisa mulai dengan memanfaatkan lingkungan atau halaman sekolah sebagai sumber belajar. Sebagai contoh: di SDN 03 Cijantung, halaman sekolah ditumbuhi banyak tanaman, dari mulai tanaman hias sampai pohon buah-buahan seperti mangga, jambu, rambutan, dll. Setiap hari banyak daun-daun kering jatuh ke tanah sebagai sampah. Di bawah bimbingan guru, siswa mengumpulkan daun-daun tersebut, menimbang, mencatat dan memasukkan ke dalam wadah di tempat komposting. Setelah itu melakukan proses komposting, menimbang kompos yang dihasilkan dan menggunakannya untuk memupuk tanaman lain. Siswa belajar menimbang, menghitung rata-rata, mengamati, membandingkan dan memanfaatkan produk yang dihasilkan. Hal sederhana, namun bisa membiasakan siswa untuk berpikir dan bertindak saintifik. Artinya, proses sains sudah dilakukan sekaligus menanamkan kesadaran cinta lingkungan sejak dini melalui pembiasaan.
Di sisi lain, hasil survey ke beberapa SMA di Jakarta menunjukkan masih ada sekolah yang tidak menyelenggarakan praktikum untuk pelajaran kimia. Bisa dibayangkan belajar kimia tanpa pernah praktikum. Alasan yang diajukan oleh sekolah beragam, dari mulai tidak ada laboratorium, keterbasan dana untuk membeli alat dan bahan praktikum sampai tidak cukupnya waktu yang tersedia di kurikulum. Sebagai salah satu LPTK penghasil guru kimia, jurusan Kimia UNJ tidak berdiam diri. Salah satu peran kecilnya dalam mengatasi masalah tidak terselenggaranya praktikum di SMA adalah dengan menyediakan bahan kimia yang dapat dibeli sesuai kebutuhan sehingga terjangkau, menyediakan ruang laboratorium pada saat tidak ada kegiatan untuk dipakai praktikum oleh siswa SMA dan memberikan layanan konsultasi seputar kesulitan penyelenggaraan praktikum di SMA.
Jika kreativitas guru dipermasalahkan karena kurang dihargai, sebetulnya tidak demikian, karena jenis kegiatan pemberian penghargaan bagi guru berprestasi sangat banyak, di antaranya yang bisa saya sebutkan: (1) LKG (Lomba Kreativitas Guru) menekankan pada best practices pembelajaran yang dilakukan sehari-hari oleh guru, (2) FIG (Forum Ilmiah Guru) menekankan pada karya tulis yang dibuat oleh guru, (3) Gupres (Guru Berprestasi), menekankan pada prestasi yang diraih oleh guru, (4) OSNG (Olimpiade Sains Nasional Guru) kompetisi penguasaan bidang studi dan pedagogi, dan (5) Lomba penulisan naskah buku pengayaan IPA. 
Muara dari semua kegiatan di atas adalah peningkatan profesionalisme guru. Mengapa profesionalisme guru perlu ditingkatkan? Karena guru yang profesional akan memahami 4 kompetensi yang harus dimiliki dan diimplementasikan dalam kinerjanya, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Keempat kompetensi ini sangat berdampak terhadap kualitas pembelajaran yang dihasilkan. Tidak akan ada lagi pembelajaran sains yang tidak berkualitas jika diajarkan oleh guru sains yang profesional.
LPTK menghasilkan guru yang “tidak profesional”……? Kapankah itu…..? Sejak tahun 1990, kurikulum di LPTK sudah mengalami reformasi dan mengacu pada kurikulum Basic Science, sehingga guru-guru yang dihasilkan oleh produk kurikulum tersebut sudah sesuai harapan. Perubahan kurikulum tersebut tidak berhenti hanya pada kurikulum Basic Science, namun secara berkala dan berkelanjutan dievaluasi dan direvisi. Sehingga guru-guru sains yang dihasilkan oleh LPTK diera 1990 dan seterusnya cukup memadai dan mengikuti perkembangan IPTEK. Namun demikian, tidak menutup mata bahwa tidak semua LPTK mendapat kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri. LPTK atau mantan IKIP yang mendapat perluasan mandat menjadi universitas termasuk beruntung, karena dengan adanya program murni memberi penguatan terhadap program pendidikan dalam sisi bidang studi. Namun tidak demikian dengan FKIP yang berada di bawah naungan universitas. FMIPA tidak memberi penguatan terhadap MIPA FKIP, koordinasi penggunaan lab bersama tidak menguntungkan bagi MIPA FKIP (sumber dari FKIP yang studi banding ke UNJ). Oleh sebab itu tidak adil jika sumber permasalahan digeneralisasi.
Tidak bisa dipungkiri masih banyak permasalahan di seputar perkembangan sains dasar di Indonesia yang solusinya membutuhkan koordinasi dan sinergi dari berbagai pihak terkait, baik dari pembuat kebijakan, penyelenggara pendidikan, pelaku pendidikan maupun para pemerhati pendidikan. Berbagai upaya perbaikan dapat dilakukan mulai dari hal kecil namun berkesinambungan dan terus menerus, karena upaya perbaikan adalah sebuah proses panjang. (MP)