Selasa, 04 November 2014

Kepingan-kepingan yang Bermuara pada Pembelajaran Sains Dasar


Mengapa kurikulum 2013 digulirkan…..?
Jika dibandingkan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sebenarnya mempunyai semangat yang sama. Kedua kurikulum tersebut menekankan pembelajaran yang terpusat pada siswa, melatih siswa untuk mengembangkan daya nalarnya dalam memecahkan permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata. Sehingga pada akhirnya kemampuan berpikir kritis siswa dapat berkembang dengan baik. Tetapi pada kenyataannya, pembelajaran yang terjadi di sekolah lebih terpusat pada guru. Guru lebih banyak menekankan aspek pengetahuan dan pemahaman. Kreativitas guru dalam melakukan pembelajaran yang aktif, inovatif, dan menyenangkan masih belum membudaya. Berbagai kendala dalam penerapan KTSP sering dikeluhkan oleh para guru di lapangan saat saya berinteraksi dalam berbagai kesempatan.
Selama ini penterjemahan terhadap KTSP tidak berlangsung dengan baik. Guru lebih senang dengan “formatisasi”, segala sesuatu harus ada format yang bisa dicontoh, tidak berani mengambil sikap untuk berbeda. Contohnya: format RPP, format silabus, dll. Bagaimana KTSP bisa diterapkan sesuai dengan kondisi sekolah dan mengangkat keunggulan lokal kalau masih “formatisasi”. Seperti apapun kurikulum diubah, jika persepsi guru tidak berubah dan keinginan untuk mengubah diri tidak dilakukan, maka hasilnya akan tetap sama.
Adanya program sertifikasi guru yang melegalisasi bahwa guru yang tersertifikasi adalah tenaga profesional, menuntut guru untuk selalu meningkatkan kualitas dan kinerjanya. Hal ini merupakan konsekuensi wajar dari sebuah peningkatan kesejahteraan. Tidak menjadi layak lagi apabila guru mengeluh terhadap tuntutan peningkatan kualitas dan kinerja tersebut. Artinya menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang menjadi tugas utama guru harus bisa dilakukan dengan ideal, termasuk pembelajaran sains.
Untuk membudayakan sains di sekolah, bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana, tidak membutuhkan biaya yang besar, yang dibutuhkan adalah guru yang kreatif dan memiliki semangat tinggi. Untuk tingkat sekolah dasar bisa mulai dengan memanfaatkan lingkungan atau halaman sekolah sebagai sumber belajar. Sebagai contoh: di SDN 03 Cijantung, halaman sekolah ditumbuhi banyak tanaman, dari mulai tanaman hias sampai pohon buah-buahan seperti mangga, jambu, rambutan, dll. Setiap hari banyak daun-daun kering jatuh ke tanah sebagai sampah. Di bawah bimbingan guru, siswa mengumpulkan daun-daun tersebut, menimbang, mencatat dan memasukkan ke dalam wadah di tempat komposting. Setelah itu melakukan proses komposting, menimbang kompos yang dihasilkan dan menggunakannya untuk memupuk tanaman lain. Siswa belajar menimbang, menghitung rata-rata, mengamati, membandingkan dan memanfaatkan produk yang dihasilkan. Hal sederhana, namun bisa membiasakan siswa untuk berpikir dan bertindak saintifik. Artinya, proses sains sudah dilakukan sekaligus menanamkan kesadaran cinta lingkungan sejak dini melalui pembiasaan.
Di sisi lain, hasil survey ke beberapa SMA di Jakarta menunjukkan masih ada sekolah yang tidak menyelenggarakan praktikum untuk pelajaran kimia. Bisa dibayangkan belajar kimia tanpa pernah praktikum. Alasan yang diajukan oleh sekolah beragam, dari mulai tidak ada laboratorium, keterbasan dana untuk membeli alat dan bahan praktikum sampai tidak cukupnya waktu yang tersedia di kurikulum. Sebagai salah satu LPTK penghasil guru kimia, jurusan Kimia UNJ tidak berdiam diri. Salah satu peran kecilnya dalam mengatasi masalah tidak terselenggaranya praktikum di SMA adalah dengan menyediakan bahan kimia yang dapat dibeli sesuai kebutuhan sehingga terjangkau, menyediakan ruang laboratorium pada saat tidak ada kegiatan untuk dipakai praktikum oleh siswa SMA dan memberikan layanan konsultasi seputar kesulitan penyelenggaraan praktikum di SMA.
Jika kreativitas guru dipermasalahkan karena kurang dihargai, sebetulnya tidak demikian, karena jenis kegiatan pemberian penghargaan bagi guru berprestasi sangat banyak, di antaranya yang bisa saya sebutkan: (1) LKG (Lomba Kreativitas Guru) menekankan pada best practices pembelajaran yang dilakukan sehari-hari oleh guru, (2) FIG (Forum Ilmiah Guru) menekankan pada karya tulis yang dibuat oleh guru, (3) Gupres (Guru Berprestasi), menekankan pada prestasi yang diraih oleh guru, (4) OSNG (Olimpiade Sains Nasional Guru) kompetisi penguasaan bidang studi dan pedagogi, dan (5) Lomba penulisan naskah buku pengayaan IPA. 
Muara dari semua kegiatan di atas adalah peningkatan profesionalisme guru. Mengapa profesionalisme guru perlu ditingkatkan? Karena guru yang profesional akan memahami 4 kompetensi yang harus dimiliki dan diimplementasikan dalam kinerjanya, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian. Keempat kompetensi ini sangat berdampak terhadap kualitas pembelajaran yang dihasilkan. Tidak akan ada lagi pembelajaran sains yang tidak berkualitas jika diajarkan oleh guru sains yang profesional.
LPTK menghasilkan guru yang “tidak profesional”……? Kapankah itu…..? Sejak tahun 1990, kurikulum di LPTK sudah mengalami reformasi dan mengacu pada kurikulum Basic Science, sehingga guru-guru yang dihasilkan oleh produk kurikulum tersebut sudah sesuai harapan. Perubahan kurikulum tersebut tidak berhenti hanya pada kurikulum Basic Science, namun secara berkala dan berkelanjutan dievaluasi dan direvisi. Sehingga guru-guru sains yang dihasilkan oleh LPTK diera 1990 dan seterusnya cukup memadai dan mengikuti perkembangan IPTEK. Namun demikian, tidak menutup mata bahwa tidak semua LPTK mendapat kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri. LPTK atau mantan IKIP yang mendapat perluasan mandat menjadi universitas termasuk beruntung, karena dengan adanya program murni memberi penguatan terhadap program pendidikan dalam sisi bidang studi. Namun tidak demikian dengan FKIP yang berada di bawah naungan universitas. FMIPA tidak memberi penguatan terhadap MIPA FKIP, koordinasi penggunaan lab bersama tidak menguntungkan bagi MIPA FKIP (sumber dari FKIP yang studi banding ke UNJ). Oleh sebab itu tidak adil jika sumber permasalahan digeneralisasi.
Tidak bisa dipungkiri masih banyak permasalahan di seputar perkembangan sains dasar di Indonesia yang solusinya membutuhkan koordinasi dan sinergi dari berbagai pihak terkait, baik dari pembuat kebijakan, penyelenggara pendidikan, pelaku pendidikan maupun para pemerhati pendidikan. Berbagai upaya perbaikan dapat dilakukan mulai dari hal kecil namun berkesinambungan dan terus menerus, karena upaya perbaikan adalah sebuah proses panjang. (MP)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar