Kamis, 06 November 2014

Seonggok Jagung Dan Softskills Dalam Bingkai Pembelajaran Kooperatif


Penggalan Sajak Seonggok Jagung karya W.S. Rendra:

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”



Membaca sajak ini, membuat pikiran dipenuhi pertanyaan “sebetulnya apa yang terjadi dengan pendidikan di negeri tercinta ini?” Apakah pendidikan kita gagal membuat seseorang percaya akan kemampuannya, memiliki kompetensi sesuai bidangnya, mudah beradaptasi dalam perubahan, mampu berkontribusi bagi lingkungannya, siap memasuki dunia kerja?

Harian Kompas pada tahun 2010 pernah memuat tulisan tentang kategori sukses versi Harvard yang menyebutkan bahwa kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skills), tetapi lebih mengarah pada kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skills). Pernyataan ini memberikan isyarat bahwa soft skills sudah selayaknya mendapat perhatian dengan porsi yang lebih dalam dunia pendidikan terutama pendidikan formal mulai dari tingkat yang terendah, namun kenyataan berbicara lain. Pembelajaran di sekolah masih berorientasi pada penguasaan pengetahuan yang menekankan aspek-aspek teknis atau hard skills. Pembelajaran lebih diarahkan bagaimana peserta didik menguasai sebanyak-banyaknya materi pelajaran yang disampaikan oleh guru atau sekedar siap menghadapi ujian dan memperoleh nilai bagus. Kalau sekedar itu…. tujuan pembelajaran sudah tercapai dan menunjukkan hasil. Kita bisa lihat spanduk-spanduk yang terpampang di depan gerbang hampir semua sekolah… Sekolah A lulus UN 100%, Sekolah B memiliki nilai UN kimia tertinggi se-DKI, dsb.

Apakah memang hanya itu….? Jika hanya ranah kognitif yang menjadi tujuan, jawabannya IYA. Bagaimana dengan ranah afektif dan psikomotor?
Kali ini saya ingin meninjaunya dari kaca mata softskills yang notabene menjadi bagian dari ranah afektif. Softskills meliputi intrapersonal skills dan interpersonal skills. Intrapersonal skills mengarah pada sifat personal, di antaranya rasa empati, integritas, motivasi, critical thinking, tanggung jawab. Sedangkan interpersonal skills meliputi keterampilan kerjasama tim (team working skills), keterampilan berkomunikasi (communication skills) dan keterampilan kepemimpinan (leadership skills). Softskills yang demikian luas cakupannya ini menjadi pelengkap hardskills, namun bukan pelengkap penderita….

Interpersonal Skills secara umum digambarkan sebagai keterampilan seseorang dalam berinteraksi tanpa menimbulkan konflik pribadi melalui komunikasi dan pemahaman yang baik terhadap orang lain. Hal yang menarik adalah adanya pernyataan yang menyebutkan bahwa interpersonal skills ditengarai sebagai keterampilan yang paling penting di dalam dunia kerja.
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara mengembangkan keterampilan-keterampilan ini melalui pembelajaran….?

Model pembelajaran kooperatif dapat menjadi salah satu alternatif.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu proses pembelajaran di mana peserta didik bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, saling membantu mempelajari suatu materi pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Di dalam pembelajaran kooperatif, seluruh peserta didik diberi tanggungjawab untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran kooperatif memiliki lima ciri pokok, yaitu: (1) Positive interdependence, (2) Individual accountability, (3) Group processing, (4) Social skills, dan (5) Face to Face interaction.

Salah satu contoh pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan interpersonal skills adalah model Jigsaw atau model Tim Ahli. Misalnya kita akan mempelajari cara penentuan entalpi reaksi melalui percobaan, perhitungan entalpi pembentukan standar, Hukum Hess dan pendekatan energi ikatan. Maka langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh guru adalah:
  1. Mengelompokkan siswa dengan 4 anggota tim
  2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
  3. Anggota dari tim yang berbeda bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan materi bagian mereka
  4. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian menjelaskan kepada teman satu tim mereka tentang bagian materi yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
  5. Setiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
  6. Guru melakukan evaluasi dan memberikan umpan balik
              

                                               
Dari satu contoh model di atas yang sederhana, guru sudah menciptakan pembelajaran yang lebih menyenangkan sekaligus melatih peserta didiknya memiliki tanggung jawab individu dan kelompok, menumbuhkan rasa percaya diri, terampil berkomunikasi, melakukan kerjasama. Selain itu, peserta didik sudah dikondisikan atau difasilitasi untuk mengkonstruk sendiri pengetahuannya yang akan menjadi longterm retention.

Jika pembelajaran yang dilakukan oleh guru selalu menyenangkan dan memfasilitasi peserta didik untuk terlibat aktif, maka tidak akan ada lagi peserta didik yang mengatakan tidak suka matematika, kimia pelajaran yang sulit, fisika menakutkan, sejarah membosankan, dsb. Semua peserta didik akan senang belajar dan karakter atau sikap positif sedikit demi sedikit akan terbentuk menjadi pembiasaan dan akhirnya membudaya serta bermuara pada kompetensi yang mencakup ketiga ranah seperti yang diharapkan.

Maka…. tidak akan ada lagi pemuda dalam sajak Rendra yang merasa pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan dan bertanya apa gunanya belajar. (MP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar