Selasa, 30 Desember 2014

Sains, Seni dan Keterkaitannya

Bermula dari percakapan dengan seorang sahabat, maka terangkailah tulisan ringan ini, “Sains, Seni dan Keterkaitannya” yang dirangkum dari berbagai sumber.

Sains menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah ilmu yang teratur (sistematik) yang dapat diuji atau dibuktikan kebenarannya berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata. Dengan ungkapan lain, sains berkaitan dengan proses penemuan atau cara mencari tahu tentang alam semesta secara sistematis yang mengikuti kaidah ilmiah sehingga hasilnya dapat dipercaya sebagai kumpulan fakta-fakta yang menjadi  konsep, prinsip dan teori. Sedangkan seni menurut KBBI adalah keahlian yang membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusan,keindahan, dll). Seni adalah suatu kreativitas pribadi yang kuat, disertai keterampilan dan pada mulanya adalah proses yang dihasilkan manusia, sehingga seni identik dengan sains.

Sains mengajarkan orang suatu pengetahuan, seni mendorong orang untuk berpraktek. Menurut Aristoteles, seni adalah peniruan terhadap alam namun sifatnya harus ideal. Sedangkan buah pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaan dan sifat indah, sehingga menggerakkan jiwa dan perasaan manusia.

Albert Einstein, siapa yang tidak kenal dengan ilmuwan yang satu ini, penemu teori relativitas. Selain menggeluti sains dan meraih nobel di bidang fisika, Einstein sangat piawai memainkan karya Mozart dan Bethoveen melalui tuts-tuts piano. Noyori peraih nobel kimia dari Jepang mengatakan bahwa sains itu seperti seni, bagaimana kita mengerahkan seluruh tenaga untuk sesuatu (riset) yang kita senangi.

Fisikawan lain peraih nobel,  Max Planck (1858-1947) dan Werner Heisenberg (1901-1976),  dimana keduanya adalah pelopor teori kuantum juga mahir dalam bermusik.  Planck, selain hebat bermain piano, organ dan cello, juga pernah mencipta  lagu-lagu dan opera, namun ia memilih jalan hidupnya sebagai fisikawan. Sedangkan Heisenberg sebagai pianis yang handal, di ulang tahunnya ke 60 mendapat kehormatan memainkan salah satu konserto untuk piano dan orkes ciptan Mozart.

Leonardo Da Vinci seorang pelukis ternama, bukan hanya seorang seniman tetapi juga seorang ilmuwan dan penemu yang luar biasa, dia memadukan ilmu dengan seni. Dalam sketsanya, selain terdapat gambar rancangan kapal terbang, juga kapal selam yang besar pengaruhnya pada masa sekarang. Selain pelukis, Da Vinci juga dikenal sebagai pemusik yang piawai memainkan biola dan keberhasilannya dalam bermusik tidak bisa ditandingi orang biasa.

Sehingga berbicara tentang sains dan seni seperti membicarakan sebuah mata uang yang mempunyai dua sisi, saling terkait dan saling melengkapi.  Keduanya merupakan hasil yang lahir dari kreativitas manusia. Di dalam taksonomi Bloom yang direvisi oleh Anderson, kreativitas merupakan dimensi proses berpikir tertinggi pada ranah kognitif dan termasuk ke dalam higher order thinking. Menurut Anderson, jenis berpikir yang dapat mencerminkan kreativitas tergolong ke dalam jenis berpikir divergen. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa berpikir divergen adalah suatu kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu permaslahan berdasarkan data atau informasi yang tersedia. Jenis berpikir ini serupa dengan jenis berpikir yang diungkapkan oleh De Bono, yaitu berpikir lateral atau menyamping yang merupakan kontradiksi dangan penalaran ilmiah yang disebut sebagai berpikir vertikal.

Perbedaan antara berpikir vertilal dan berpikir lateral
Berpikir Vertikal
Berpikir Lateral
Menekankan pada kebenaran
Menekankan pada keragaman
Bersifat analisis
Bersifat provokatif
Proses berpikir dilakukan secara berurutan, tahap demi tahap
Membuat lompatan dalam berpikir
Mengikuti jalan yang paling mungkin
Menjajagi jalan yang paling tidak mungkin
Fokus dan mengesampingkan apa yang tidak relevan
Menyambut baik terobosan yang bersifat kebetulan
Merupakan proses terbatas
Merupakan proses yang serba mungkin

Kemudian yang menjadi pertanyaan, apakah kita harus menentukan atau memilih akan berpikir vertikal atau lateral…..? Walupun secara fundamental kedua cara berpikir ini berbeda, kita tidak harus memilih salah satu dan mengesampingkan yang lainnya. Kita bisa membuat kedua cara berpikir ini menjadi sebuah sinergi yang saling melengkapi. Sehingga, selain akan memiliki penalaran ilmiah yang baik, kita juga akan menjadi kreatif.

Sebagai penutup tulisan ringan ini, saya tetap akan memberikan tantangan kepada semua guru dan calon guru sains, untuk mengimplementasikan uraian di atas dalam menjalankan profesinya.

“Bayangkan, apabila seorang guru sains memiliki kedua cara berpikir ini….. bisa dipastikan proses pembelajaran yang diciptakan akan menjadi sebuah proses pembelajarn yang menarik, memotivasi dan selalu merangsang tumbuhnya rasa ingin tahu di dalam diri peserta didik. Pembelajarannya akan dirindu setiap saat, tidak ada lagi peserta didik yang mengeluhkan bahwa pembelajaran sains sulit dan membosankan. Pada akhirnya, guru sebagai profesional harus dapat mengembangkan profesinya menjadi suatu karya seni yang mampu membawa semangat, passion yang kuat untuk mendedikasikan diri menghasilkan suatu karya yang state of the art”.  (MP)

Rabu, 10 Desember 2014

Potret Implementasi K-13 Di Sebuah Sekolah

Berkunjung ke sekolah ini, salah satu SMA Negeri di kota Padang Sumatra Barat sangat menginspirasi. Suasana yang cukup asri tampak sejak memasuki gerbang sekolah. Bertemu dengan kepala sekolah, staf kurikulum dan guru kimia di sekolah tersebut yang menyambut dengan ramah. Saya memulai pembicaraan dengan guru kimia, dan inilah sebagian dari hasilnya.

Saat K-13 diimplementasikan di sekolah tersebut pada tahun 2013, ibu Helmida Fitri seorang guru yang penuh semangat mendapat kesempatan untuk mengajar di kelas 10 yang menggunakan K-13. Saat itu, buku siswa dan buku panduan guru belum ada yang ada hanya kurikulum dan silabusnya. Ketidaktersediaan buku tidak membuat Helmida berdiam diri. Ibu guru yang penuh semangat itu membuat bahan ajar sendiri lengkap dengan lembar kerja siswa (LKS) dengan referensi dari berbagai sumber. Siswa-siswa diarahkan untuk menggunakan buku tambahan apa saja asalkan materinya sesuai. Ibu Helmida membuat LKS untuk setiap Kompetensi Dasar (KD) pada proses pembelajaran di kelas maupun kegiatan praktikum di laboratorium. Yang menarik dari LKS yang dibuat oleh ibu Helmida, ada satu praktikum di mana siswa yang merancang sendiri percobaannya, termasuk penggunaan bahan dan penentuan prosedur dengan tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi disampaikan sebelumnya kepada siswa.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dikembangkan sendiri dengan tetap memperhatikan komponen minimal yang harus ada, walaupun sekolah menyediakan format RPP dan menariknya pada saat supervisi baik oleh Kepsek maupun Pengawas tidak menjadi masalah. Guru mempunyai ruang untuk berkreasi. Pendekatan saintifik yang digunakan untuk membingkai proses pembelajaran tidak dimaknai secara kaku sebagai sintaks pembelajaran, tetapi menjadi nafas keseluruhan proses pembelajaran. Tahapan-tahapan pelaksanaannya sangat situasional bergantung keadaan kelas pada saat itu. Di sinilah kreativitas guru sangat menentukan dalam mengubah strategi pembelajaran, menstimulasi siswa untuk terlibat aktif di dalam proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran seperti yang dicantumkan dalam RPP dapat tercapai walaupun tahapan pembelajarannya berubah. Ibu Helmida dapat melakukannya dengan baik.

Kendala utama yang dirasakan oleh ibu Helmida dan sebagian besar gurudi sekolah tersebut adalah pada proses penilaian, terutama penilaian sikap. Kesulitan tersebut ada pada penentuan nilai sesuai rubrik yang telah dibuat, faktor subyektivitas sangat dominan dan sulit menilai sikap siswa dalam waktu bersamaan untuk seluruh siswa dalam satu kelas. Penilaian sikap ini pada awalnya merupakan nilai rata-rata setiap KD. Perkembangan terakhir, penilaian sikap diubah dan disederhanakan menjadi sikap yang sering muncul pada siswa yang tentunya berbeda satu sama lain dan ini memudahkan bagi guru dalam melakukan pengamatan.

Penilaian kinerja dilakukan pada saat praktikum. Karena praktikumnya berkelompok, maka guru mengambil nilai kinerja setiap praktikum dengan satu ketrampilan dasar yang dilakukan oleh setiap siswa, misalnya: menimbang, mengencerkan zat, memilah alat lab, memipet, dsb. Di samping juga ada penilaian berdasarkan kerja kelompok dan penilaian praktikum yang dirancang sendiri oleh siswa (seperti yang telah dijelaskan di atas). Sedangkan penilaian pengetahuan dilakukan berdasarkan kompetensi, bergantung pada saat kapan KD diuji (UH, UTS atau UAS). Cara ini memudahkan dan guru dapat menilai secara benar kompetensi siswa pada setiap KD.

Setelah itu, saya memulai pembicaraan dengan Kepala Sekolah, yang menyatakan bahwa implementasi K-13 sangat bergantung pada kompetensi guru. Praktik baik yang dilakukan untuk selalu meningkatkan kompetensi dan motivasi guru adalah melakukan penyegaraan secara berkala setiap dua minggu sekali, dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan In House Training (IHT). Nara sumber pada kegiatan-kegiatan tersebut berganti-ganti dan memiliki kompetensi yang sesuai. Kepala sekolah juga memfasilitasi guru untuk mengikuti kegiatan ilmiah di luar sekolah dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Keterlaksanaan sebuah kurikulum apapun itu namanya bergantung pada banyak faktor. Kompetensi guru hanyalah salah satunya, di luar faktor lainnya yang melibatkan campur tangan dan menjadi tanggung jawab pemangku kebijakan seperti sarana prasarana, distribusi guru, kompetensi kepsek dan pengawas, dll.


Kondisi di atas hanya sebuah contoh kecil dari praktik baik implementasi K-13 di sebuah sekolah. Seandainya Mas Menteri juga mewawancarai guru-guru seperti bu Helmida, maka surat yang beredar kepada kepala sekolah beberapa waktu lalu mungkin akan lebih dipertimbangkan utuk tidak diedarkan secara tergesa-gesa. (MP)