Sabtu, 23 Mei 2015

PENILAIAN KINERJA DALAM PEMBELAJARAN: Sebuah Ulasan Singkat



Penilaian dalam proses pendidikan merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dari komponen lainnya khususnya pembelajaran. Penilaian hasil pembelajaran atau hasil belajar merupakan tolok ukur pencapain kompetensi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Penilaian hasil belajar, selain ditujukan bagi peserta didik juga bagi pendidik berfungsi sebagai alat untuk mewujudkan akuntabilitas profesionalnya, dan dapat juga digunakan sebagai dasar dan arah pengembangan pembelajaran remedial atau program pengayaan bagi peserta didik yang membutuhkan, serta memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan proses pembelajaran pada pertemuan berikutnya.  Untuk itu, berbagai pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran perlu dikembangkan untuk memfasilitasi peserta didik agar mudah dalam belajar dan mencapai keberhasilan belajar secara optimal.

Dalam Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 Lingkup Penilaian Hasil Belajar mencakup kompetensi sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan. Penilaian pada ranah keterampilan terdiri dari: (a) penilaian kinerja, (b) penilaian proses, (c) penilaian produk, dan (d) penilaian portofolio.  Tulisan kali ini hanya membuat ulasan singkat mengenai penilaian kinerja.

Penilaian kinerja (performance assessment) sering juga disebut sebagai penilaian alternatif (alternative assessment) dan penilaian autentik (authentic assessment). Pada dasarnya penilaian kinerja merupakan salah satu bentuk penilaian yang menilai kompetensi peserta didik tidak hanya dari segi kognitif saja, tetapi juga dari sudut pandang psikomotorik. Dengan dilakukannya penilaian kinerja, maka penilaian menjadi bersifat menyeluruh, dan memenuhi prinsip penilaian.

Berdasarkan beberapa ahli, penilaian kinerja merupakan salah satu bentuk penilaian yang lebih menuntut peserta didik untuk menampilkan keterampilan kinerjanya. Penilaian kinerja adalah teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan perilaku peserta didik secara sistematis tentang proses atau produk berdasarkan kriteria yang jelas, yang berfungsi sebagai dasar penilaian. Pengamatan kinerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu.Tantangan dalam penilaian kinerja secara metodologi adalah merancang situasi observasional yang membangkitkan bukti bagaimana menyimpulkan, mengambil dan meringkas bukti, memantau dan memperbaiki sistem penilaian.
Penilaian kinerja harus dilakukan sesuai prosedur yang benar, agar memberikan informasi yang sesungguhnya teantang hasil yang dicapai oleh peserta didik, karena kinerja adalah hasil seseorang secara keseluruhan dalam melaksanakan tugas pada periode waktu tertentu. Standar hasil kerja, target, sasaran atau kriteria dalam penilaian kinerja harus ditentukan terlebih dahulu dan disepakati bersama. Penilaian kinerja cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu, seperti: praktek di laboratorium, praktek olah raga, presentasi, diskusi, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/ deklamasi, termasuk juga membuat busana. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Cara penilaian ini juga dapat memberikan informasi tingkat penguasaan terhadap bagian-bagian yang sulit dari suatu pekerjaan.

Kenyataan di lapangan, terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi guru dalam melakukan penilaian kinerja, yaitu:
1.    Pedoman instrumen yang tidak jelas sehingga sukar digunakan.
2.    Prosedur penilaian kurang baik, sehingga mempengaruhi penilaian terutama timbulnya unsur subyektivitas guru sebagai penilai
3.    Kesulitan dalam membuat dan mengimplementasikan rubrik penilaian, sehingga nilai tidak sesuai dengan kemampuan yang sesungguhnya

Penilaian kinerja dapat dilakukan dengan berbagai cara, dimana seluruh cara tersebut bertujuan untuk memudahkan guru dalam melakukan penilaian. Penilaian kinerja tidak menggunakan kunci jawaban dalam menentukan skor, melainkan menggunakan pedoman penskoran berupa rubrik.  Untuk menjamin reliabilitas, keadilan dan kebenaran penilaian maka perlu dikembangkan kriteria atau rubrik untuk pedoman menilai hasil kerja.   Penilaian kinerja tidak hanya bergantung pada jawaban benar atau salah, namun perlu dilakukan observasi oleh guru sebagai bahan pertimbangan yang obyektifsehingga penilaian terhadap capaian peserta didik sesuai level prestasi. 

Untuk melakukan penilaian kinerja, terlebih dahulu harus disiapkan format atau instrumennya. Apapun bentuk format penilaian kinerja, dalam menentukan ruang lingkup isi dan keterampilan yang akan dibahas dalam penilaian sebaiknya melibatkan ahli subjek-materi, praktisi berpengalaman, dan pemangku kepentingan lainnya. Tahapan pembuatan penilaian kinerja di antaranya sebagai berikut:
1.    Menentukan jenis keterampilan yang akan dinilai
2.    Membuat indikator sesuai dengan keterampilan yang akan dinilai
3.    Menyusun instrumen yang akan dipakai dapat berupa checklist atauskala penilaian.
4.    Menyusun rubrik sebagai kriteria penilaian.

Pada umumnya, penilaian kinerja dilakukan dengan menggunakan checklist atau rating scale. Untuk memberikan informasi yang menyeluruh tentang kemampuan peserta didik dalam penilaian kinerja, digunakan skala penilaian yang dilengkapi dengan rubrik sebagai panduan penilaian. Rubrik adalah suatu alat penskoran yang terdiri dari daftar seperangkat kriteria tentang apa yang harus dinilai. Berikut adalah beberapa cara melakukan penilaian kinerja, yaitu:
1.    Ceklis (checklist) atau daftar cek.
Ceklis digunakan untuk mengetahui muncul atau tidaknya keterampilan tertentu dari kinerja yang dinilai. Cara ini mempunyai kelemahan, yaitu hanya terdapat dua pilihan penilaian yang mutlak, yaitu ya dan tidak, tanpa ada nilai tengah. Ceklis berisi tabel muncul - tidak muncul yang harus diberi centang oleh guru sebagai penilai. Keuntungan penilaian kinerja dengan cara ceklis adalah mudah digunakan untuk jumlah siswa yang besar.
2.    Catatan anekdot / rekaman narasi (anecdotal/narative records).
Catatan anekdot merupakan catatan lapangan, berisi narasi tentang keterampilan siswa selama bekerja. Dari catatan tersebut guru akan mengetahui seberapa terampil siswanya melakukan tindakan.
3.    Skala penilaian (rating scale).
Skala penilaian merupakan cara penilain kinerja dalam bentuk angka-angka (numerik) tentang merekam keterampilan siswa dalam bekerja. Pada umumnya skala penilaian menggunakan empat kriteria penilaian, misalnya: 4 = baik sekali, 3 = baik, 2 = cukup, 1 = kurang.
4.    Memori atau ingatan (memory approach).
Memori atau ingatan dilakukan dengan cara mengingat-ingat kinerja siswa selama bekerja. Guru tidak merekamnya dalam bentuk tulisan. Meskipun teknik ini sangat tidak akurat, namun tetap saja mampu memberikan informasi mengenai keterampilan siswa. Cara ini cukup efektif apabila diterapkan pada kelas dengan jumlah siswa sedikit. *MP  

Sumber:
Martin-Kniep, Gissele O. 2000. Becoming a Better Teacher: Eight Innovators That Work. ASCD
Myford, Carol M., dan Robert J. Mislevy. 1995. Monitoring and Improving: a Portfolio Assessment System. Los Angeles: CRSST, University of California).
Nitko, Anthony J. 1996. Educational Assessment of Student. New Jersey: Prentice Hall.
Permen Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Permendikbud No.104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah 
Popham W., James. 1995. Classroom Assessment: What Teachers Need to Know. Los Angeles: Allyn & Bacon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar