Selasa, 22 September 2015

PEMBELAJARAN SAINS MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM KURIKULUM 2013: SEBUAH UPAYA UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS



PEMBELAJARAN SAINS MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM KURIKULUM 2013: SEBUAH UPAYA UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS[1]

Maria Paristiowati[2]

Pendahuluan
Di era globalisasi dimana akses informasi tidak memiliki batas–batas wilayah, negara, memacu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi atau IPTEK menjadi demikian pesatnya. Peran sains dasar atau ilmu–ilmu dasar, untuk selanjutnya kita sebut Sains yaitu matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA) menjadi tak terbantahkan dalam mewarnai perkembangan teknologi yang berdaya guna sangat luas dalam memudahkan kehidupan masyarakat.  
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana kondisi pembelajaran Sains tersebut di sekolah? Fakta mengatakan bahwa pembelajaran Sains yang terjadi di sekolah masih terpusat pada guru. Guru lebih banyak menekankan aspek pengetahuan dan pemahaman. Kreativitas guru dalam melakukan pembelajaran yang aktif, inovatif, dan menyenangkan masih belum membudaya. Peserta didik kurang terlatih dalam mengembangkan daya nalarnya untuk memecahkan permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata.
Sejatinya pembelajaran Sains harus mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik melalui aktivitas yang membangun pengetahuannya sendiri. Peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui kegiatan mengamati, menanya, menalar, memberikan penjelasan terhadap bukti yang diperoleh, dan menarik kesimpulan. Kegiatan tersebut melatih peserta didik untuk berpikir dengan cara saintis. Oleh sebab itu, pembelajaran Sains di sekolah menggunakan pendekatan saintifik dalam prosesnya. Dalam kurikulum 2013 yang telah disahkan dan diterapkan pada beberapa jenjang pendidikan mulai Tahun Pembelajaran 2013/2014 ini, mengamanatkan esensi pendekatan saintifik dalam pembelajaran.

Kurikulum 2013

Mengapa kurikulum harus berubah? Kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman, karena kurikulum mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan-tantangan di masa depan melalui pengetahuan, keterampilan, sikap dan keahlian untuk beradaptasi serta bisa bertahan hidup dalam lingkungan yang senantiasa berubah. Pengembangan kurikulum 2013 searah dengan tujuan pendidikan Nasional, lebih berbasis pada penguatan penalaran, bukan lagi pada hafalan semata. Salah satu tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, berpikir logis, sistematis, bersifat objektif, jujur dan disiplin dalam memandang dan menyelesaikan masalah yang berguna untuk kehidupan dalam masyarakat termasuk dunia kerja. Hal ini sesuai dengan tuntutan kemampuan di abad 21, di antaranya kemampuan menalar dan berpikir kritis, kemampuan berkominkasi, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan menggunakan komputer dan teknologi.
Pengembangan Kurikulum 2013 menitikberatkan pada penyederhanaan dan pendekatan tematik-integratif. Elemen perubahan kurikulum dari KTSP ke Kurikulum 2013 meliputi 4 standar, yaitu: standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, dan standar penilaian. Standar isi, terjadi perubahan jumlah mata pelajaran dan jam pelajaran. Mata pelajaran ada yang dikurangi dan diintegrasikan, namun jumlah jam pelajaran bertambah. Fokus pembelajaran pada pembentukan Independent Critical Thinker dan menitikberatkan pada penanaman moralitas dan budi pekerti ke dalam diri peserta didik. Standar kompetensi lulusan, secara substansi tidak mengalami perubahan, yaitu memberdayakan potensi pengetahuan, sikap, keterampilan secara komprehensif, sehingga terjadi peningkatan dan keseimbangan soft skills & hard skills. Standar proses, semula terfokus pada Eksplorasi-Elaborasi-Konfirmasi, pada Kurikulum 2013 dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Standar penilaian mengarah pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil).
Karakteristik Kurikulum 2013 di antaranya adalah:
1.     Penambahan jam pelajaran.
Penambahan jam pelajaran merupakan konsekuensi dari adanya perubahan proses pembelajaran dari yang awalnya siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu. Jika dibandingan dengan negara-negara lain jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat. Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial.
2.     Peningkatan efektivitas pembelajaran pada satuan pendidikan.
Efektivitas pembelajaran dicapai melalui tiga tahapan yaitu efektivitas interaksi, efektivitas pemahaman, dan efektivitas penyerapan. (1) Efektivitas Interaksi akan terwujud dengan adanya harmonisasi iklim atau atmosfir akademik dan budaya sekolah. Iklim atau atmosfir akademik dan budaya sekolah sangat kental dipengaruhi oleh manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah beserta jajarannya. Efektivitas Interaksi dapat terjaga apabila kesinambungan manajemen dan kepemimpinan pada satuan pendidikan. Tantangan saat ini adalah sering dijumpai pergantian manajemen dan kepemimpinan sekolah secara cepat sebagai efek adanya otonomi pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh politik daerah. (2) Efektivitas pemahaman menjadi bagian penting dalam pencapaian efektivitas pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat tercapai apabila pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi (menyimak, mengamati, membaca, mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan dan mengomunikasikan. Oleh karena itu penilaian dilakukan berdasarkan proses dan hasil pekerjaan serta kemampuan menilai sendiri. (3) Efektivitas penyerapan dapat tercipta ketika adanya kesinambungan pembelajaran secara horisontal dan vertikal. Kesinambungan pembelajaran secara horizontal bermakna adanya kesinambungan mata pelajaran dari kelas I sampai dengan kelas VI pada tingkat satuan pendidikan  SD, kelas VII sampai dengan IX pada tingkat satuan pendidikan SMP dan kelas X sampai dengan kelas XII tingkat SMA/SMK. Selanjutnya kesinambungan pembelajaran vertikal bermakna adanya kesinambungan antara mata pelajaran pada tingkat saatuan pendidikan SD, SMP, sampai dengan satuan pendidikan SMA/SMK.  Sinergitas dari ketiga efektivitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan sebuah transfomasi nilai yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang berkarakter mulia.
3.     Perubahan proses penilaian dari penilaian berbasis output menjadi berbasis proses dan output. 

Pendekatan Saintifik
            Pendekatan saintifik dalam pembelajaran merupakan titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik aktif mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui kegiatan mengamati, menanya, menalar, memberikan penjelasan terhadap bukti yang diperoleh, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan pengetahuannya tersebut. Pendekatan saintifik merupakan wahana pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik melalui proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah dan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) dibandingkan dengan penalaran deduktif (deductive reasoning).

Tabel 1.  Langkah-langkah Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran
Langkah Pembelajaran
Kegiatan Belajar
Kompetensi yang Dikembangkan
Mengamati
Membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat)
ketelitian, kesungguhan mencari informasi
Menanya
Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati
(dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik)
kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat, kreatif dan rasa ingin tahu
Mengumpulkan informasi/ eksperimen
-  Melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengamati objek/ kejadian/aktivitas, wawancara dengan narasumber
teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Mengasosiasikan/
mengolah informasi
-  Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
-  Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.
jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan .
Mengkomunikasikan
Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya
jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Karakteristik pendekatan saintifik dalam pembelajaran di antaranya sebagai berikut:
1.    Pembelajaran berpusat pada siswa
2.    Pembelajaran melibatkan keterampilan proses sains dalam membangun pengetahuan yang berupa konsep, hokum atau prinsip
3.    Pembelajaran melibatkan proses kognitif yang melatih perkembangan keterampilan berpikir kritis
4.    Pembelajaran dapat mengembangkan karakter peserta didik
Beberapa contoh kegiatan pembelajaran Sains di Sekolah Dasar yang dapat dilakukan sesuai dengan pendekatan saintifik di antaranya sebagai berikut:
1.    Kegiatan Literasi Sains
mencakup pengenalan konsep-konsep dasar sains yang ditemui peserta didik dalam kehidupan sehari-hari melalui percobaan-percobaan sederhana atau demonstrasi.
2.    Mendengarkan cerita
merupakan jembatan penghubung pengetahuan peserta didik dengan materi yang akan dibahas atau perkenalan topik baru yang akan diajarkan. 
3.    Pembuatan proyek  
merupakan kegiatan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkreasi dalam menghasilkan sebuah karya yang dibuatnya secara mandiri sesuai dengan topik yang sedang diperkenalkan. 
4.    Kegiatan Perpustakaan
meliputi peminjaman buku oleh peserta didik untuk dibawa pulang dari perpustakaan. Peserta didik secara bergiliran berkunjung ke perpustakaan untuk membaca dan mendengarkan kaset/CD (listening corner). Kegiatan ini dilakukan sebagai rangsangan bagi peserta didik untuk menyukai buku dan senang membaca.
 

Penutup
Pengembangan Kurikulum 2013 menitikberatkan pada penyederhanaan dan pendekatan tematik-integratif. Fokus pembelajaran pada pembentukan Independent Critical Thinker. Pendekatan saintifik yang diamanatkan dalam implementasi kurikulum 2013 merupakan wahana pembelajaran yang mengembangkan proses berpikir kritis atau berpikir tingkat tinggi. Oleh sebab itu guru harus senantiasa mengasah kemampuannya agar pembelajaran dapat berlangsung efektif dan efisien, sehingga proses pembelajaran yang diselenggarakan akan bermuara pada keberhasilan.


Daftar Pustaka

Arifin, Mulyati dkk, Strategi Belajar Mengajar Kimia, Bandung: Technical Cooperation Project for Development of Science and Mathematics Teaching for Primary and Secondary Education in Indonesia, 2003.
Fisher, Alec. Berpikir Kritis sebuah Pengantar, Jakarta: Erlangga, 2009.
Permendikbud No. 81A Tahun 2013
Rainbolt, W. Goerge & Dwyer, L. Sandra. Critical Thinking The Art of Argument, Boston: Wadsworth, Cengage Learning, 2012.
Stine, Jean Marie. Mengoptimalkan Daya Pikir. Jakarta: Delaprasta, 2003


[1] Disampaikan pada Seminar dalam rangka Olimpiade Sains Nasional Guru Tingkat Nasional Tahun 2014,  Serpong 4 September 2014.
[2] Staf Pengajar Jurusan Kimia FMIPA-UNJ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar