Sabtu, 27 Agustus 2016

Kamu ingin menjadi guru....?



Kamu ingin menjadi guru….?
Sebuah pertanyaan sederhana yang kerap saya lontarkan sebagai pertanyan terakhir atau penutup saat menjadi penguji di sidang skripsi mahasiswa. Reaksi mahasiswa terhadap pertanyaan tersebut ternyata tidak sesederhana pertanyaannya, banyak yang di luar dugaan. Ada mahasiswa yang tiba-tiba menangis tersedu-sedu, ada yang menjawab “iya bu” dengan penuh percaya diri, ada juga yang menjawab “pada awalnya tidak bu…” dan masih banyak lagi yang lain. Semua jawaban dan reaksi mahasiswa tersebut membuat saya bereaksi dengan perasaan dan pikiran yang kadang menjadi perenungan panjang.

Kamu ingin menjadi guru….?
Apakah itu pertanyaan yang aneh untuk sebuah cita-cita?
Guru adalah sebuah profesi yang harus dijalankan dengan professional, karena guru merupakan salah satu variable penting dalam keberhasilan pendidikan. Jika kita tidak yakin dengan jawabannya, maka semakin sulitlah kita menjadi guru yang baik yang kompeten di bidangnya.

Kamu ingin menjadi guru….?
Buat mahasiswa yang menjawab dengan percaya diri “iya bu, saya ingin menjadi guru”, saya ingin memberikan nasehat sederhana untuk menjadi guru yang siap mengajar generasi millennial di era yang sangat kompetitif.
Jadilah guru yang mampu:
1.       Membangun kepercayaan melalui komunikasi yang jujur
Menjadi guru di era kemudahan akses informasi bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar. Siswa dengan mudah mendapatkan informasi dari beraneka sumber belajar. Oleh sebab itu, guru harus siap menyampaikan ketidaktahuannya kepada siswa, jika ada permasalahan yang belum bisa terpecahkan. Tentunya dengan catatan akan mencaritahu kemudian. Sikap ini secara tidak langsung menumbuhkan kepercayaan dalam diri siswa bahwa guru tidak asal menjawab pertanyaan. Selain itu memberi teladan kepada siswa untuk berani mengakui kesalahan, menyatakan tidak tahu dan tetap bersemangat mencari solusi dari ketidaktahuannya.
2.       Memberikan apresiasi pada setiap pekerjaan siswa
Guru tidak boleh bosan memeberikan apresiasi kepada siswa. Contoh sederhana apresiasi yang dapat diberikan oleh guru adalah memberi komentar pada jawaban siswa baik saat menjawab secara lisan atau pada jawaban tes tertulis. Seandainya siswa menjawab kurang tepat, guru tetap harus memberi memberi apresiasi, agar siswa tetap bersemangat, percaya diri serta tidak takut salah.
3.       Menyampaikan pelajaran melalui contoh kasus keseharian
Guru dapat menggunakan contoh kasus yang pernah atau sedang terjadi disesuaikan dengan topik yang akan diajarkan. Memahami keterkaitan topik yang diajarkan dengan kejadian keseharian membuat siswa lebih memaknai pembelajarannya atau belajar menjadi lebih bermakna.
4.       Memanfaatkan medsos sebagai media pembelajaran
Di era teknologi yang berkembang demikian pesat, hampir semua siswa di sekolah mempunyai akun medsos. Guru yang cerdik akan memanfaatkannya menjadi media pembelajaran atau ruang belajar alternatif yang menyenangkan bagi siswa.
5.       Melatih belajar mandiri melalui mind mapping
Guru harus memberi ruang kepada siswa untuk belajar membangun dan mengembangkan sendiri pengetahuannya. Salah satu cara yang menyenangkan, guru menyediakan satu topik besar yang akan dipelajari, kemudian siswa-siswa diberi kebebasan untuk membahas topik tersebut secara detil dari berbagai sudut. Mind map dari setiap siswa pada akhirnya akan saling melengkapi satu sama lain dengan konfirmasi dari guru.
6.       Mengoptimalkan power point untuk memfokuskan perhatian
Mengapa ini saya selipkan? Karena yang kebanyakan terjadi, power point yang dibuat guru sama seperti memindahkan buku teks ke dalam tayangan. Seharusnya power point dimanfaatkan untuk memfokuskan inti materi yang dipelajari sehingga memudahkan siswa dalam mengingat dengan mendeskripsikan sendiri penjelasannya. Untuk lebih menarik perhatian dan menjaga semangat siswa, dalam power point dapat diselipkan video singkat, musik atau animasi yang sesuai.
7.       Memfasilitasi siswa belajar di luar kelas
Outdoor activity…. sesekali perlu dilakukan guru agar suasana belajar selalu kondusif dan dapat meningkatkan kepekaan siswa terhadap alam dan lingkungan tempatnya berada. Di samping itu, kegiatan di luar kelas dapat digunakan guru untuk menyampaikan pengetahuan yang mungkin tidak diperoleh siswa dari buku teks pelajaran.
8.       Menyiapkan permainan sebagai sarana belajar
Istilah belajar sambil bermain memang layak dilakukan, terutama sebagai variasi dalam menyampaikan materi pelajaran. Beragam permainan dapat disiapkan guru untuk membuat pembelajaran di kelas tidak membosankan, mengalihkan sejenak kejenuhan siswa untuk kembali fokus kemudian. Permainan-permainan sederhana yang tidak membutuhkan banyak waktu dan tentunya sesuai dengan materi pelajaran yang disampaikan akan membuat pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan. (akan disajikan beberapa contoh pada tulisan berikutnya)
Semua uraian di atas pasti sudah sangat biasa dan tidak asing lagi, namun saya selalu tergelitik menyampaikan dan mengingatkan kembali untuk mahasiswa-mahasiswa saya yang akan lulus. Karena pada merekalah saya menaruh harapan untuk berkontribusi positif terhadap upaya perbaikan kualitas pendidikan di tanah air tercinta, walaupun hanya seperti setetes air di tengah samudra. (MP)
Bersambung…..

www.unj.ac.id