Minggu, 30 Oktober 2016

Pembelajaran Kolaboratif: Sebuah Gerakan untuk Mewujudkan Komunitas Belajar



Sambungan tulisan terdahulu

Pembentukan komunitas belajar merupakan jalan untuk menuju reformasi sekolah. Dan kegiatan yang paling sederhana untuk membentuk komunitas belajar adalah melalui pembelajaran kolaboratif.

Pembelajaran kolaboratif seringkali dimaknai sebagai sebuah model pembelajaran yang menggunakan belajar berkelompok dengan berbagai cara, seperti jigsaw, diskusi kelompok dan lain-lain. Namun, apakah dengan siswa belajar berkelompok sudah terjadi pembelajaran kolabaratif? Dalam pembelajaran kolaboratif terdapat tiga point penting, yaitu:
1.    Setiap siswa menganggap kelompoknya seperti rumah sendiri.
Siswa merasa nyaman, tidak malu bertanya pada temannya jika belum mengerti, setiap siswa merasa diterima apa adanya dalam kelompok tersebut.
2.    Tersedia tumpuan dalam pembelajaran.
Tumpuan yang dimaksud adalah bahan dan media pembelajaran untuk merangsang siswa saling berinteraksi dalam kelompoknya.
3.    Melakukan pembelajaran dengan tipe step atau spiral.
Tipe step maksudnya adalah jika satu langkah gagal maka tidak akan bisa menuju langkah berikutnya. Sedangkan tipe spiral maksudnya adalah melangkah maju dengan melibatkan siswa yang belum mengerti, sehingga diperoleh pemahaman baru.
Tipe pembelajaran yang baik diterapkan untuk pembelajaran kolaboratif adalah tipe spiral.

Pembentukan kelompok untuk terjadinya kolaborasi bisa secara berpasangan maupun bertiga atau berempat. Kelompok yang dibentuk agar proses kolaborasi berlangsung dengan baik, sangat disarankan memperhatikan pemerataan gender dan keberagaman lainnya.
Kemudian bagaimana dengan peran guru dalam pembelajaran kelompok agar terjadi kolaborasi?

Guru tetaplah menjadi komponen yang paling berperan menciptakan suasana kondusif untuk terjadinya pembelajaran kolaboratif, dimulai dari hal-hal sederhana berikut:
1.    Mendorong siswa agar menciptakan hubungan saling bergantung yang positif satu sama lain, sehingga siswa bisa secara terbuka untuk meminta bantuan pada siswa lain dalam kelompoknya
2.    Menerima setiap siswa apa adanya, tidak memarahi di depan siswa lain jika berbuat kesalahan, namun memberi bimbingan secara pribadi agar siswa dapat menyadari kesalahannya
3.    Menyimak atau menjadi pendengar yang baik terhadap apa yang disampaikan siswa, apa yang sudah diketahui dan yang terpenting apa yang belum diketahui siswa. Tidak melakukan intervensi saat siswa berbicara
4.    Menghubungkan siswa yang belum mengerti dengan siswa yang sudah mengerti, dan menghubugkannya dengan buku teks atau sumber belajar
5.    Bersikap sabar, memberi waktu dan ruang kepada siswa untuk merenung dan memecahkan masalahnya. Dengan kata lain tidak tergesa untuk memberikan penjelasan
6.    Mempelajari kembali kesulitan siswa dalam memahami suatu materi. Dari kesulitan inilah sebetulnya bisa terjadi pembelajaran.

Pada saat siswa berdiskusi dalam kelompok, siswa harus saling belajar satu sama lain di dalam kelompoknya tersebut. Semua siswa bebas berpendapat dan saling menyimak dengan baik pendapat temannya. Memberikan bantuan kepada temannya yang masih kesulitan dalam memahami materi yang dipelajari. Saling belajar dalam kelompok ini kemudian dilanjutkan dengan saling belajar dalam kelas pada saat pleno. Siswa berdiskusi dan mengemukakan pendapat atau pikirannya dalam kegiatan pleno. Namun pada saat siswa menyampaikan pendapatnya tetap sebagai pendapatnya pribadi bukan kesimpulan atau pendapat kelompok.

Nah di sinilah letak bedanya dengan pembelajaran kelompok yang pada umumnya dilakukan. Biasanya setelah dilakukan diskusi dalam kelompok, salah satu siswa yang mewakili kelompok tersebut akan menyampaikan pendapat kelompok atau kesimpulan kelompok pada saat diskusi kelas atau pleno. Pendapat pribadi sudah melebur menjadi pendapat kelompok. Hal ini bisa menimbulkan ketidakpuasan, karena kesimpulan kelompok belum tentu sama dan mewakili pikiran dan pendapat pribadi. Keberagaman pendapat pada saat pleno akan menumbuhkan saling belajar antar siswa. Semua siswa akan merasa pendapatnya dihargai. Karena bak diskusi kelompok maupun diskusi pleno bukanlah bertujuan untuk menyatukan pendapat tetapi untuk saling bertukar pendapat. Peran guru diakhir diskusi tentunya memberikan konfirmasi dan klarifikasi pemahaman yang benar. Bagian kegiatan ini disebut dengan sharing task, bagian yang sesuai dengan buku pelajaran, sesuai dengan kurikulum.

Jika sudah terjadi sharing task, guru bisa melakukan jumping task untuk meningkatkan mutu pembelajarannya. Siswa diberikan tugas atau soal dengan tingkat kesukaran yang tinggi di atas tingkat pembelajaran biasa untuk didiskusikan kembali dalam kelompok. Selain untuk meningkatkan mutu pembelajaran, jumping task juga untuk memfasilitasi siswa yang cepat belajar atau memiliki kemampuan di atas rata-rata. Namun dengan diskusi kelompok, jumping task ini dapat menggugah rasa ingin tahu seluruh siswa. Artinya siswa dengan kemampuan rata-rata akan termotivasi juga memecahkan masalah dalam jumping task. Di sinilah kemampuan dan kreativitas guru sangat dibutuhkan. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. (bersambung)

*Selamat berkarya untuk para guru di seluruh penjuru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar