Senin, 03 Oktober 2016

REFORMASI SEKOLAH DENGAN KOMUNITAS BELAJAR: Sebuah Perenungan



Melewati malam di Tokyo, membaca tulisan Manabu Sato diiringi Kenny G yang melankolis… membuat saya ingin berbagi sedikit. Paling tidak ini menjadi bahan perenungan buat saya.

Yang menarik buat saya setelah membaca tulisan Sato, bahwa reformasi sekolah yang utama bukanlah dukungan sarana prasarana dan sumber daya, melainkan visi. Karena visi merupakan prioritas pertama jika kita berbicara tentang reformasi. Tanpa visi, maka waktu, energi dan semua sumber daya yang diinvestasikan menjadi tidak berarti apa-apa. Terbentuknya komunitas belajar merupakan visi untuk keberhasilan reformasi sekolah.

Seperti apakah reformasi sekolah dengan komunitas belajar?
Sekolah yang menjamin hak belajar setiap anak tanpa terkecuali, terus menerus meningkatkan kualitas pembelajarannya, pencapaian simultan antara kualitas dan kesetaraan serta menyiapkan masyarakat yang demokratis. Apakah ini mudah….? Sudah tentu tidak mudah, namun bisa terwujud melalui proses panjang dan keinginan baik dari semua pihak yang terkait, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, orang tua dan masyarakat. 

Reformasi sekolah dengan komunitas belajar merupakan impian, dimana siswa–siswa saling belajar dan berkembang, guru–guru yang terus saling belajar dan berkembang serta orang tua dan masyarakat yang juga saling belajar dan berkembang.
Filosofi yang menjadi landasan reformasi sekolah dengan komunitas belajar adalah: (1) filosofi publik, (2) filosofi demokrasi, dan (3) filosofi keunggulan.

Filosofi Publik
Sekolah harus difungsikan sebagai ruang publik. Artinya guru membangun hubungan dengan sesama rekan guru lainnya dan saling belajar untuk membelajarkan siswa dengan cara membuka kelasnya minimal setahun sekali. Sehingga guru akan mendapatkan masukan secara terus menerus untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya.
Filosofi Demokrasi
Sekolah adalah tempat dimana demokrasi bisa dijalankan dan dikembangkan dengan baik. Setiap siswa memiliki hak dan kewajiban yang sama. Semua siswa mempunyai dan mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa menjadi yang terbaik. Tidak hanya siswa, gurupun mendapat kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri. Oleh sebab itu penting sekali untuk menciptakan hubungan saling mendengarkan dengan mengedepankan dialog di antara sesama siswa, siswa dan guru, dan di antara sesama guru.

Filosofi Keunggulan
Sekolah harus melakukan yang terbaik berorientasi pada keungulan dalam proses pembelajaran. Dalam kondisi apapun guru tidak boleh menurunkan level pembelajaran karena alasan kemampuan siswa yang rendah, lingkungan yang kurang kondusif, guru terlalu sibuk atau alasan lainnya. Dalam hal ini perlu upaya pembiasaan diri untuk mengupayakan pembelajaran yang maksimal, seperti kata Dewey bahwa pendidikan merupakan pembentukan kebiasaan.

Kemudian pertanyaan selanjutnya…. Sistem kegiatan seperti apa yang dapat mewujudkan reformasi sekolah dengan komunitas belajar?
Sistem kegiatan didesain sebagai sebuah sistem yang menyeluruh yang didukung oleh semua elemen sekolah, yaitu melalui sistem kegiatan: (1) pembelajaran kolaboratif (collaborative learning) di dalam kelas, (2) pembentukan komunitas belajar professional (professional learning community), dan (3) kolegialitas (collegiality) di ruang guru, serta yang tidak kalah penting adalah dukungan orang tua dan masyarakat dalam reformasi sekolah. (MP)
(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar