Kamis, 23 Agustus 2018

SEKILAS TENTANG PENDIDIKAN KARAKTER


Pendidikan nasional dalam UU No 20 Tahun 2003 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jika dicermati, potensi dalam diri peserta didik yang ingin dikembangkan melalui pendidikan mengarah pada pengembangan karakter. Artinya nilai-nilai karakter bangsa adalah nafas dan ruh yang menjadi inti utama pendidikan nasional bukan hanya sekedar untuk mencapai kecerdasan akademik. Hal ini sesuai dengan sifat umum pendidikan yang dideskripsikan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita”.
Internalisasi pendidikan karakter dalam kurikulum sudah ada sejak dulu, bukan merupakan hal baru. Kurikulum 1964, memfokuskan pembelajaran pada: daya cipta, rasa, karsa, karya dan moral. Kurikulum 1968 menggantikan kurikulum 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama,  merupakan wujud dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni, dimana kurikulum ini bertujuan membentuk manusia Pancasila sejati, kuat dan sehat jasmani, mempertinggi keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.
Pendidikan budaya dan karakter bangsa atau sering disingkat pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang  mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara  yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Sehingga pengembangan karakter menjadi penting untuk diintegerasikan ke dalam proses pembelajaran di setiap jenjang pendidikan untuk ketercapaian tujuan pendidikan nasional.
Integrasi pendidikan karakter ke dalam proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses belajar aktif dan berpusat pada peserta didik, dilakukan melalui berbagai kegiatan baik di dalam kelas, di sekolah, maupun di masyarakat.
1.      Kelas
Proses pembelajaran di setiap mata pelajaran dirancang sedemikian rupa untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Oleh karena itu, tidak selalu diperlukan kegiatan belajar khusus untuk mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter. Dari setiap proses pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan berbagai model atau metode pembelajaran akan memunculkan karakter yang khas, misalnya model problem based learning, akan menumbuhkan karakter rasa ingin tahu, kritis, analitis. Metode jigsaw, dapat menumbuhkan rasa percaya diri, tanggung jawab, kerjasama dan melatih komunikasi. Melalui metode team game tournament (TGT), ditumbuhkan karakter kompetitif, tanggung jawab dan kerjasama. Pengembangan nilai-nilai lainnya seperti kerja keras, jujur, toleransi, disiplin, mandiri, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan gemar membaca dapat melalui kegiatan belajar yang biasa dilakukan guru. Integrasi pendidikan karakter dalam proses pembelajaran ini harus tercermin pada rencana pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru dengan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik. Untuk pegembangan beberapa nilai lain seperti peduli sosial, peduli lingkungan, rasa ingin tahu, dan kreatif memerlukan upaya pengkondisian sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai-nilai itu.
2.      Sekolah
Pendidikan karakter dapat dikemas melalui berbagai kegiatan sekolah yang diikuti seluruh peserta didik, guru, kepala sekolah,  dan tenaga administrasi di sekolah itu, direncanakan sejak awal tahun pelajaran, dimasukkan ke Kalender Akademik dan yang dilakukan sehari-hari sebagai bagian dari budaya sekolah. Contoh kegiatan yang dapat dimasukkan ke dalam program sekolah adalah lomba majalah dinding dengan tema-tema tertentu, seperti perjuangan pahlawan, cinta tanah air, linkungan, dll. Pagelaran seni, misalnya dengan menampilkan puisi religi. Lomba pidato bertema budaya dan karakter bangsa, pertandingan olah raga antar kelas, pameran hasil karya peserta didik, pameran foto hasil karya peserta didik lomba membuat tulisan, lomba mengarang lagu, melakukan wawancara kepada tokoh lingkungan hidup, tokoh agama, tokoh budaya, dll.
3.      Luar sekolah
Selain di dalam kelas dan di sekolah, pendidikan karakter dapat diintegrasikan juga melalui kegiatan ekstrakurikuler, seperti kelompok ilmiah remaja (KIR), dokter kecil, palang merah remaja, rohis, olah raga, berbagai kesenian, madding, dan sebagainya. Kegiatan lain seperti pengabdian masyarakat juga dapat dilakukan untuk menumbuhkan kepedulian dan kesetiakawanan sosial, misalnya membantu mereka yang tertimpa musibah banjir, memperbaiki atau membersihkan tempat-tempat umum, membantu membersihkan atau mengatur barang di tempat ibadah tertentu, gerakan mencuci mukena di masjid sekitar sekolah, dan sebagainya.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter bagi peserta didik meliputi:
1.      Berkelanjutan
Prinsip berkelanjutan ini mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai  karakter merupakan sebuah proses panjang, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan. Sejatinya, proses tersebut dimulai dari kelas 1 SD atau tahun pertama dan berlangsung paling tidak sampai kelas 9 atau kelas akhir SMP. Pendidikan karakter di SMA adalah kelanjutan dari proses yang telah terjadi selama 9 tahun.  
2.      Melalui semua mata pelajaran
Pengembangan karakter peserta didik dilakukan melalui pengintegrasian nilia-nilai di dalam proses pembeajaran setiap mata pelajaran, dalam setiap kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler
3.      Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan
Prinsip ini mengandung makna bahwa guru tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada, tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai karakter pada peserta didik. Guru juga tidak harus melakukan proses pembelajaran khusus untuk mengembangkan nilai, karena satu proses pembelajaran dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.  Namun demikian, peserta didik perlu mengetahui pengertian dari suatu nilai yang sedang mereka tumbuhkan pada diri mereka. Mereka tidak boleh berada dalam posisi tidak tahu dan tidak paham makna nilai itu.
4.      Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan
Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan karakter bangsa dilakukan oleh peserta didik bukan oleh guru. Guru menerapkan prinsip ”tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukkan peserta didik. Prinsip ini juga menyatakan bahwa proses pendidikan dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang dan tidak indoktrinatif.
Dari urain di atas jelas terlihat bahwa Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkembangkan karakter peserta didik, baik melalui proses pembelajaran di kelas, kegiatan di sekolah, ekstrakurikuler maupun kegiatan di masyarakat.

“Filosofi ruang sekolah dalam suatu generasi akan memenentukan filosofi pemerintah di masa depan” (Abraham Lincoln). MP


Tidak ada komentar:

Posting Komentar